80% EKSPOR KARET RI dalam bentuk mentah
21 Mei 2012 Admin Website Artikel 250

JAKARTA. Lebih dari 80% dari produksi karet alam Indonesia diekspor dalam bentuk barang mentah, sehingga fluktuasi harga di pasar dunia seperti yang terjadi saat ini sangat merugikan petani di dalam negeri.

Berbeda jika ekspor dalam bentuk barang jadi seperti ban dan produk karet lainnya yang harganya lebih stabil berbeda dengan barang mentah yang fluktuatif dan rentan dengan aksi para spekluan.

Harga karet alam di tingkat perkebunan saat ini turun menjadi Rp12.000-Rp15.000 per kg jauh dibandingkan dengan harga pada tahun lalu yang mencapai Rp25.000 per kg di tingkat petani (perkebunan). Adapun, harga karet alam di tingkat pabrik saat ini hanya sekitar Rp18.000 per kg.

Ketua Umum Asosiasi Petani Karet Indonesia Lukman Zakaria mengakui harga karet saat ini turun yang disebabkan oleh fluktuasi harga karet alam di pasar dunia.

"Ini terjadi karena sebagian besar diekspor dalam bentuk barang mentah, sehingga harga mudah dipermainkan dan sering terjadi fluktuasi harga di pasar dunia, petani karet dan buruh [penyadap] yang sering dirugikan," ujarnya kepada Bisnis, 20 Mei 2012.

Menurutnya, faktor utama yang menyebabkan harga karet turun yaitu pengaruh dari pasar dunia seperti kondisi krisis di Eropa yang menyebabkan penjualan produk karet asal China ke Eropa ikut turun. Hal itu membuat permintaan karet asal China juga turun.

Dia menuturkan harga karet sangat bergantung pada harga di pasar dunia. Hal itu disebabkan sebagian besar karet alam diekspor dalam bentuk barang mentah. "Harga karet turun, sementara itu pengolahan karet di dalam negeri masih kurang, kapasitas industri pengolahan karet masih rendah."

Lukman berpendapat seharusnya karet alam diolah terlebih dahulu di dalam negeri, selanjutnya diekspor dalam bentuk barang jadi seperti ban dan barang-barang lainnya. "Sementara kita ban saja masih impor. Ke depan kita harus mengolah sendiri."

Kementerian Perindustrian, katanya, harus mampu membuat terobosan dengan mengembangkan industri hilir pengolahan karet.

Menurutnya, pemerintah dapat memberikan insentif untuk mendorong industri hilir pengolahan karet. Dia memprediksikan kondisi harga karet saat ini akan bertahan sampai dengan Agustus mendatang.

"Nanti setelah Agustus diperkirakan harga akan mulai membaik lagi. Akan ada pertemuan para pemangku kepentingan karet di Tanah Air pada Agustus mendatang yang akan diadakan di Bali, diharapkan setelah ada pertemuan itu, harga karet dapat membaik lagi," jelasnya.

DIKUTIP DARI BISNIS INDONESIA, MINGGU,20 MEI 2012


Artikel Terkait