Baru Sawit yang Terserap Langsung ke Industri
30 Desember 2014 Admin Website Berita Daerah 337
Baru Sawit yang Terserap Langsung ke Industri
BALIKPAPAN. Belum semua hasil produksi perkebunan di Kaltim terserap langsung ke pasar industri. Dari tiga komoditas utama, baru kelapa sawit yang memiliki akses penjualan relatif baik ke perusahaan perkebunan.

Lewat surveinya sepanjang 2014, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, serapan perusahaan terhadap hasil produksi rumah tangga perkebunan kelapa sawit di Kaltim mencapai 70,64 persen. Sementara karet dan kakao, masing-masing hanya 0,36 dan 0,47 persen yang langsung terkoneksi dengan perusahaan.

"Untuk kelapa sawit, sisanya sebagian besar dijual lewat koperasi atau untuk stok. Sedangkan kakao, 96,73 persen dijual ke pedagang pengumpul. Begitu juga karet dengan jumlah mencapai 97,41 persen," ujar Aden Gultom, kepala BPS Kaltim dalam sebuah rilis resmi, belum lama ini.

Lebih banyaknya distribusi kelapa sawit ketimbang karet dan kakao untuk industri, ditengarai tak lepas dari jumlah pabrik pengolahan komoditas tersebut. Hingga Mei lalu saja, Dinas Perkebunan Kaltim mencatat, ada 58 pabrik kelapa sawit tersebar di Kaltim dan Kaltara, dengan total kapasitas produksi mencapai 2.880 tandan buah segar (TBS) per jam. Sedangkan proses hilirisasi untuk karet dan kakao, lebih banyak dikembangkan di luar daerah.

Aden melanjutkan, ongkos perkebunan di Kaltim untuk tiga komoditas tersebut juga relatif besar. Pada komoditas sawit, biaya operasional sebesar Rp 11 juta per hektare (ha) atau 67,72 persen dari nilai produksi. Sedangkan pada kakao dan karet, masing-masing tercatat Rp 14,5 juta dan Rp 9,2 juta, atau 71,21 dan 75,56 persen dari nilai produksi.

Berbeda dengan kakao dan karet yang didominasi upah pekerja, struktur biaya perkebunan kelapa sawit lanjut dia, lebih banyak digunakan untuk keperluan lahan. “Share-nya 30,79 persen,” katanya.

Sedangkan untuk ongkos pekerja yang menyerap 28,68 persen dari nilai produksi. "17,25 persen di antaranya, dikerahkan saat musim panen," sambung Aden.

Sedangkan pada kakao, dia menjelaskan, 66,73 persen dari struktur biaya perkebunan digunakan untuk membayar pekerja. Sama seperti sawit, biaya upah pekerja lebih banyak dikeluarkan untuk proses pemanenan, dengan share sekitar 25,5 persen. Disusul pemeliharaan dan pengeringan, dengan share masing-masing 23,54 dan 11,48 persen.

Mengenai sumber modal, akses pembiayaan kepada petani ketiga komoditas tersebut tercatat masih sangat minim. Pada kelapa sawit, misalnya, 94,43 persen petaninya mengandalkan modal sendiri. Tercatat, hanya 3,75 persen sumber pinjaman berbunga yang menjangkau mereka, dan sisanya dari sumber lain.

"Begitu pula pada karet dan kakao, 99,39 dan 99,70 persen biaya produksinya dari modal sendiri. Sumber lain relatif masih sangat kecil," pungkasnya. (man/lhl/k15)

DIKUTIP DARI KALTIM POST, SENIN, 29 DESEMBER 2014

Artikel Terkait