Petani Jangan Sampai Stop Produksi
21 Oktober 2008 Admin Website Artikel 239
Kondisi ini memaksa Pemkab Kubar melalui Dinas Pertanian (Distan), turun tangan untuk mencari tahu penyebabnya dan berupaya mencarikan solusi. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari sekira 20 orang pengepul (tengkulak) karet, anjloknya harga karet di Kubar akibat terjadi penurunan pembelian pabrik pengolahan karet di Banjarmasin akibat krisis global.

"Ternyata memang harga karet semuanya turun. Selain menurunkan harga, pembelian juga membatasi kapasitas pembelian. Pengepul yang biasanya ditarget membeli 10 ton turun menjadi 5 ton," kata Kepala Distan Kubar Achmad Sofyan kepada Kaltim Post di kantornya, Senin (20/10), kemarin.

Petemuan antara Distan dan para pengepul itu tetap tak bisa menentukan harga jual-beli karet di Kubar. Karena yang menentukan harga dan kapasitas pembelian karet adalah pabrik penerima di Banjarmasin. Pertemuan itu juga tak terungkap adanya permain harga oleh pembeli dengan menggunakan isu krisis global.

Sejumlah pengepul mengaku menjual karet dari Kubar ke Banjarmasin Rp 6 ribu per kilogram tanpa memperhatikan kualitas. Pengepul membeli karet di bawah Rp 5 ribu karena perhitungan jarak atau mahalnya biaya transportasi dari Kubar ke Banjarmasin.

Sofyan menegaskan, pihaknya akan terus berupaya mencarikan solusi anjloknya harga karet yang menjadi produk unggulan Kubar. Beberapa alternatif yang hendak ditempuh adalah mengoptimalkan koperasi dan percepatan operasi pabrik pengolahan karet di Kukar.

"Kami coba mengoptimalkan koperasi yang ada di Kubar untuk membeli dengan harga normal (Rp 5 ribu- Rp 6 ribu, Red.) per kilogram. Solusi kedua adalah segera mengoperasikan pabrik yang ada di sini (PT Davco, Red.). Sedangkan yang ketiga adalah mengimbau kepada petani untuk tidak menghentikan produksinya. Yang dikurangi adalah volume penjualannya karena karet bisa bertahan lama," paparnya.

Imbauan supaya petani tidak menyetop produksi (penyadapan) memang beralasan. Karena getah karet tak akan keluar jika tidak disadap. Artinya, meski tidak dipanen selama tiga bulan tidak akan berpengaruh terhadap penghasilan bulan berikutnya.

"Petani jangan sampai stop produksi. Karena kalau tidak disadap justru petani akan merugi. Petani harus tetap menyadap sambil menunggu harga normal kembali," harapnya.

Anjloknya harga karet di Kubar secara langsung berpengaruh terhadap ekonomi masyarakat. Karena, jumlah perkebunan karet di Kubar mencapai 33 ribu hektare lebih dengan produksi kurang lebih 13 ribu ton per tahun. Tenaga kerja yang terlibat di kebun karet itupun jumlahnya sangat signifikan. Berdasarkan data Distan Kukar mencapai 24 ribu tenaga kerja.

Perkebunan karet di Kubat tersebar di Kecamatan Barong Tongkok sekitar 8 ribu hektare dan disusul Kecamatan Mook Manaar Bulatn, Sekolaq Darat, Linggang Bigung, Melak, dan Nyuatan.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, SELASA, 21 OKTOBER 2008

Artikel Terkait