Tiap Kecamatan Dijamah Investor
08 Januari 2008 Admin Website Artikel 285
"Sekarang ini tidak ada kecamatan yang tidak disentuh investor. Hampir seluruh kecamatan sudah ada lokasi perkebunannya. Bahkan, investor pun antre untuk memperoleh lahan perkebunan di seluruh wilayah Kutim," kata Bupati H Awang Faroek Ishak.

Hal in menunjukkan kepercayaan investor terhadap Kutim cukup tinggi. Semua itu berkat dukungan masyarakat yang selalu menjaga persatuan dan kesatuan, serta mau menerima investor dengan tangan terbuka.

Melalui investor tersebut, diharapkan dapat membantu masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan di masa mendatang. Sehingga warga yang tergabung dalam koperasi bisa menjalin kerjasama kemitraan dengan perusahaan yang ada di sekitarnya.

Hingga saat ini papar orang nomor satu di Kutim itu, sedikitnya 42 investor yang antre ingin menanamkan modalnya di Kutim. Pihaknya ingin, semua kecamatan memiliki perkebunan, baik kelapa sawit, karet, cokelat, kenaf dan sebagainya. Semuanya disesuaikan dengan potensi dan keunggulan di setiap daerah masing-masing.

Masyarakat nantinya juga dapat bekerjasama memiliki kebun seperti yang dilakukan pihak perusahaan. Melalui kerjasama pola kemitraan itu, masyarakat tidak hanya menjadi penonton. Warga dituntut aktif juga dalam membangun daerahnya sendiri.

Pihaknya ingin, potensi di setiap daerah dikembangkan bersama investor yang masuk. Misalnya di Kecamatan Long Mesengat yang mempunyai potensi karet, Busang dengan cokelatnya dan seterusnya. Sehingga, masing-masing kecamatan nantinya memiliki keunggulan komparatif tersendiri.

Apabila dulu berbicara kelapa sawit di Kutim, hanya Kongbeng dan Muara Wahau, karena terlebih dulu berhasil dalam membangun pabrik sawit. Sekarang ini, sudah seluruh kecamatan terjamah investor dengan berbagai macam komoditi yang dikembangkan.

Melalui gerakan revitalisasi pertanian dalam arti luas, diharapkan Kutim mampu berkembang dengan baik di masa mendatang. Walaupun kabupaten yang berusia 8 tahun pada Oktober nanti memiliki potensi sumber daya tambang yang cukup besar, namun masa depannya berada di sektor agribisnis dan pertanian.

"Suatu saat nanti tambang bakal habis. Untuk itu, antisipasi harus dilakukan sejak sekarang. Jangan sampai peristiwa Bangka Belitung (Babel) terjadi lagi di Kutim ke depan," tandas Awang Faroek.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, SELASA, 8 JANUARI 2008

Artikel Terkait