RRC Berminat Investasi Benih Kapas
12 Juni 2009 Admin Website Artikel 336
Chairman Hubei Provincial Seed Group, Guobao Yuan, di Jakarta, Jumat (12/6), menyatakan, Indonesia sangat potensial untuk investasi karena mempunyai penduduk yang sangat banyak sehingga sangat besar pasarnya.

Sejak awal, kerja sama dalam pemasaran benih kapas hibrida dengan pemerintah RI, tambahnya, pihaknya ingin berinvertasi di Indonesia. "Tapi harus dilihat dulu minat petani untuk menanam kapas, kalau minat tanam petani kecil bagaimana kita akan investasi tapi kalau minat tanam petani besar maka akan berinvestasi," katanya usai menemui Dirjen Perkebunan Deptan, Achmad Manggabarani, di Gedung Departemen Pertanian.

#img1# Menurut dia, sebenarnya jika benih kapas yang selama ini diekspor ke Indonesia bisa diproduksi di sini, hal itu akan mengurangi biaya produksi karena ongkos kirim impor dari RRC sangat tinggi.

Guabao menyatakan, untuk melakukan investasi pengembangan benih kapas hibrida di Indonesia setidaknya harus ada areal penanam kapas di Tanah Air seluas 10.000 hektar (ha).

Namun, tambahnya, di Indonesia minat petani untuk menanam kapas masih rendah karena harga jual yang kurang menguntungkan. Berbeda dengan di negaranya, harga komoditas tersebut sangat tinggi yakni sekitar Rp 9000/kg jauh di atas Indonesia yang hanya Rp 4000/kg.

Sementara itu, Dirjen Perkebunan, Achmad Manggabarani, menyatakan, sejak dua tahun lalu, Indonesia telah menjalin kerja sama dengan Republik Rakyat Cina (RRC) untuk mengembangkan benih kapas hibrida di tujuh provinsi di Tanah Air.

Kerja sama tersebut yakni Indonesia mengimpor sebanyak 40 ton benih kapas dari Hubei Provincial Seed Group dari RRC yang akan ditanam di Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, Bali, NTT dan NTB masing masing setiap provinsi seluas 10 hektar. Saat ini, kerja sama itu masih dalam taraf uji coba.

"Pada tahun ketiga, sudah dilakukan penanaman secara komersial sekaligus alih teknologi pengembangan benih kapas sehingga nantinya bisa diproduksi di dalam negeri," katanya.

Saat ini, Indonesia masih mengimpor kapas sebanyak 90 persen dari kebutuhan nasional sekitar 500.000 ton kapas sebagai bahan baku pembuatan tekstil. Jika perbenihan ini berhasil, diharapkan produksi kapas dalam negeri akan meningkat sebesar 5-6 persen dari saat ini yang hanya 3 persen atau 20.000 ton per tahun.

Menurut dia, saat ini pemerintah memberikan subsidi benih dan pupuk serta mematok harga pembelian dari pengusaha sebesar Rp 4000/kg untuk memberikan insentif kepada petani agar berminat menanam kapas. "Patokan harga ini diharapkan dapat meningkatkan minat petani untuk menanam kapas, sebab rendahnya minat petani menanam kapas terjadi karena harga kapas di pasaran masih rendah," katanya.

Achmad menyatakan, saat ini kebutuhan impor kapas nasional masih dipenuhi dari Amerika Serikat, Australia, dan Mesir.

Mengenai luas lahan kapas yang ada sekarang, dia mengatakan, secara potensial mencapai 400.000 hektar, tetapi dari luas tersebut yang sudah tertanam baru 20.000 hektar, yang terluas di Sulawesi Selatan seluas 7.500 hektar.

DIKUTIP DARI KOMPAS, JUMAT, 12 JUNI 2009

Artikel Terkait