(0541)736852    (0541)748382    disbun@kaltimprov.go.id

PT REA Kaltim Plantations Luncurkan Program SPACE, Dorong Kemitraan dan Legalitas Petani Sawit

10 Oktober 2025 Afif Berita Daerah 390
PT REA Kaltim Plantations Luncurkan Program SPACE, Dorong Kemitraan dan Legalitas Petani Sawit

KUTAI KARTANEGARA. Upaya memperkuat kemitraan antara perusahaan dan petani sawit swadaya kembali mendapat energi baru. PT REA Kaltim Plantations (REA) resmi meluncurkan Program Smallholder Partnership AcCEleration atau disingkat SPACE, yang menjadi tonggak penting dalam perjalanan menuju tata kelola perkebunan sawit yang inklusif, transparan, dan berkelanjutan.

Acara peluncuran yang digelar di Kutai Kartanegara itu turut dihadiri Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri, serta sejumlah pejabat pemerintah daerah, perwakilan koperasi, dan lebih dari 100 petani binaan, Jum'at (10/10/2025).

Dalam kegiatan tersebut, REA juga menyerahkan sertifikat Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) dan Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan (SPPL) kepada petani yang tergabung dalam program SHINES (Smallholder Inclusion for Ethical Sourcing) program pendampingan yang fokus pada peningkatan legalitas dan etika sumber daya sawit.

Langkah ini menjadi bukti nyata dukungan REA terhadap penguatan kapasitas petani agar dapat memenuhi standar keberlanjutan yang diakui pasar global.

Program SPACE sendiri dirancang untuk mempercepat kemitraan dan pemberdayaan petani sawit swadaya melalui serangkaian dukungan teknis dan kelembagaan.

Di tahap awal, REA menggandeng Desa Kembang Janggut, Koperasi Merah Putih, dan kelompok petani lokal yang tergabung di bawah naungan koperasi tersebut.

Melalui SPACE, petani memperoleh berbagai manfaat seperti pembayaran hasil yang lebih cepat dan transparan, pelatihan praktik pertanian berkelanjutan, pendampingan legalitas lahan, hingga dukungan peremajaan tanaman.

Peluncuran program ditandai dengan pemukulan gong oleh Bupati Aulia Rahman Basri yang disusul dengan penandatanganan tiga Nota Kesepahaman (MoU) antara REA, pemerintah desa, koperasi, dan perwakilan petani.

Dalam sambutannya, Aulia menyampaikan bahwa program ini merupakan langkah konkret dalam memperkuat posisi petani swadaya di era perdagangan global.

“Dokumen seperti STDB dan SPPL menjadi bukti bahwa petani Kutai Kartanegara siap bersaing di pasar dunia. Kolaborasi antara petani, koperasi, pemerintah, dan perusahaan seperti REA memastikan sawit kita diakui sebagai sawit yang legal dan berkelanjutan,” ujarnya.

Presiden Direktur PT REA Kaltim Plantations, Luke M.D. Robinow, menegaskan bahwa SPACE bukan sekadar proyek korporasi, melainkan filosofi baru dalam bekerja bersama petani.

“SPACE adalah cara kami untuk tumbuh bersama petani, meningkatkan pendapatan mereka, menjaga lingkungan, dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi semua pihak,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kemitraan ini akan memperkuat rantai pasok sawit yang lebih etis dan transparan sesuai dengan prinsip No Deforestation, No Peat, No Exploitation (NDPE).

Sementara itu, Bremen Yong, Group Chief Sustainability Officer REA, menjelaskan bahwa SPACE dan SHINES merupakan dua program yang saling melengkapi.

“SPACE memberikan dukungan praktis seperti pelatihan dan akses pasar, sedangkan SHINES memastikan aspek legalitas dan kepatuhan lingkungan terpenuhi. Keduanya membantu petani membangun masa depan yang stabil dan berkelanjutan,” terangnya.

REA juga menyoroti keberhasilan program SHINES yang hingga kini telah membantu 173 petani memperoleh 105 e-STDB dan 59 SPPL.

Tak hanya itu, perusahaan juga mendukung proses sertifikasi RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) dan kepatuhan terhadap EU Deforestation Regulation (EUDR), yang menjadi syarat utama agar produk sawit petani dapat diterima di pasar internasional bebas deforestasi.

Dalam kesempatan terpisah, Plt. Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur, Andi Siddik, menyampaikan apresiasinya atas peluncuran program tersebut.

“Kami mengapresiasi langkah PT REA Kaltim Plantations yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga fokus pada pemberdayaan petani dan penguatan ekonomi desa. Program SPACE merupakan bentuk nyata kemitraan berkeadilan yang kami dorong di sektor perkebunan,” tuturnya.

Andi menjelaskan bahwa tantangan utama petani sawit swadaya selama ini adalah minimnya akses terhadap pelatihan, pendampingan teknis, serta legalitas usaha.

Melalui SPACE, tantangan-tantangan itu kini dapat diatasi dengan pendekatan yang terstruktur dan berkelanjutan. “Kolaborasi seperti ini sejalan dengan visi pemerintah daerah untuk mewujudkan tata kelola sawit yang legal, berkelanjutan, dan bebas deforestasi,” tambahnya.

Andi juga optimistis bahwa sinergi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat dapat menjadikan Kutai Kartanegara sebagai contoh daerah yang berhasil mengembangkan perkebunan sawit secara bertanggung jawab.

“Dengan kerja sama yang solid, kita bisa memastikan kesejahteraan petani meningkat tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan,” tegas Andi.

Melalui implementasi program SPACE dan SHINES, PT REA Kaltim Plantations menegaskan komitmennya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif yang berpihak pada petani, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Kedua program tersebut menjadi bagian penting dari strategi keberlanjutan REA yang berlandaskan empat pilar utama, yakni Empowering Livelihoods, Sustainable Development, Climate Action, dan Forest Conservation.

Dengan visi tersebut, harapannya seluruh elemen—petani, masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta—dapat tumbuh bersama dalam membangun ekosistem perkebunan sawit yang tangguh, legal, dan berkelanjutan.

Sebuah langkah nyata menuju masa depan sawit Indonesia yang tidak hanya produktif, tetapi juga berkeadilan dan ramah lingkungan. (fif/disbun)

SUMBER : SEKRETARIAT

Artikel Terkait