Pohon Dadap Mati Karena Cendawan
15 Februari 2008 Admin Website Artikel 449
"Saya ditelepon Ibu Eda, Kabid Perlindungan Tanaman Disbun Provinsi Kaltim. Beliau menunggu laporan kami. Jadi, nanti kami akan sama-sama ke Desa Muara Kuaro mencari tahu lebih jauh tentang penyakit ini. Ini baru pertama kali terjadi," kata Putu, Rabu (13/2).

Menurut Kepala Desa Muara Kuaro H Arbain, warga Desa Muara Kuaro, Kecamatan Muara Komam merasa khawatir karena pohon dadap banyak yang mati, padahal pohon itu berguna untuk panjatan tanaman lada. Apabila pohon itu roboh, tanaman lada akan rusak, bahkan mungkin ikut mati.

Sementara hasil jual produksi lada, lanjut Arbain, sangat membantu mensejahterakan warga, sehingga ketika pohon dadap banyak yang mati, warga pun banyak yang khawatir. "Harga lada per kilogram sekarang Rp 45.000, sedangkan hasil produksi lada rata-rata setiap keluarga 200 kilogram (Kg) per tahun, bahkan ada yang sampai 300 Kg per tahun," kata Arbain.

Sebagai tidak lanjut laporan warga, Disbun mengirim petugas ke Muara Kuaro, Senin (11/2). Setelah melihat secara langsung ke lapangan, besoknya Putu mendapatkan laporan bahwa penyebab matinya pohon dadap akibat diserang cendawan.

"Kemarin orang-orang kita sudah ke sana, memang pohon dadap banyak yang mati, sebab akarnya diserang cendawan. Ada sekitar 60-70 hektare kebun lada di sana, 70 persen di antaranya telah memproduksi lada, tetapi 70 persen pohon dadap juga diserang cendawan," jelasnya.

Agar penyakit ini tidak menyerang pohon dadap yang masih sehat, lanjut Putu, pihaknya menyarankan tindakan pencegahan kepada petani, yakni dengan membuat parit-parit pembatas, sehingga penyakit tidak menular pada pohon yang masih sehat. Sedangkan pohon-pohon yang sudah diserang cendawan, agar dimusnahkan.

Tiang Kayu Ulin Lebih Aman

PENGAWAS Perkebunan Disbun di Kecamatan Muara Komam Miran SP mengatakan, panjatan untuk tanaman lada ada dua macam, yakni turus hidup dan turus mati. Karena petani Desa Muara Kuaro menggunakan pohon dadap sebagai tiang panjatan tanaman lada, sehingga yang mereka gunakan adalah turus hidup.

Sedangkan turus mati, lanjut Miran, pada umumnya berupa tiang kayu ulin, tetapi harga kayu ulin sekarang relatif mahal, sehingga cukup memberatkan petani. Oleh karena itu, petani lebih senang menggunakan pohon dadap, di samping jauh lebih murah juga mudah ditanam.

"Batang pohon dadap tinggal ditancapkan, setelah itu tumbuh sendiri, seperti cara menanam singkong. Adapun turus mati dari bahan kayu biasa, itu memang bisa, hanya saja usia lada cukup panjang, sehingga tiangnya harus dari kayu yang kuat dan tahan lama," jelasnya.

Meski demikian, tambah Miran, menggunakan turus mati lebih aman, tidak seperti pohon dadap yang diserang cendawan. Karena akarnya yang kena, pohon itu mati dan lama-kelamaan membusuk. Akibatnya, tanaman lada yang panjatannya sudah tinggi, melorot ke bawah karena terpengaruh proses pembusukan pohon tersebut.

DIKUTIP DARI TRIBUN KALTIM, KAMIS, 14 PEBRUARI 2008

Artikel Terkait