Petani Sawit Perlu Mitra
23 November 2010 Admin Website Artikel 318

PENAJAM-Hasrat untuk berkebun kelapa sawit  jadi trenyang positif bagi masyarakat Penajam Paser Utara.Banyak orang lintas profesi mencoba peruntungan membuka kebun kelapa sawit. Banyak pegawai negeri, anggota DPRD, polisi, pedagang, karyawan swasta, pensiunan bahkan petani komoditas non-sawit menerjuni bidang ini.

“Sebagian kecil sudah cukup berhasil mencapai target ekonomis yang diharapkan, sebagian lain belum berhasil, bahkan banyak yang gagal. Faktor keterbatasan sumberdaya manusia, permodalan dan keberpihakan pemerintah adalah hal yang menjadi tantangan,” kata Sekretaris DPD Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia(Apkasindo)Penajam Paser Utara, Akhmad Indradi, kemarin.

Menurut Indra, panggilan Akhmad Indradi, banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan pekebun, antara lain, pengembangan kualitas sumber daya manusia. Ia mendesak pemerintah daerah untuk menjadi fasilitator kerjasama antara pekebun sawit dengan perusahaan besar melalui pola kemitraan saling menguntungkan.

Dikatakan, untuk menjadi pekebun yang sukses, seseorang harus menguasai dua aspek penting, yaitu penguasaan teknis budidaya(teknik agronomis). Fakta yang ada,lanjutnya,  tidak ada pekebun yang sukses tanpa menguasai sendiri teknik budidaya.

Sangat disayangkan, akses pekebun terhadap literatur, pelatihan, dan sumber informasi lain sangat terbatas. Sehingga  DPD Apkasindo bertekad menyelenggarakan secara berkala pelatihan-pelatihanbagi pekebun sebagai kelanjutan pelatihan-pelatihan sebelumnya.

Faktor kedua , lanjut Indra, pengaturan manajemen dirimengatur segala sumber daya yang dimiliki pekebun, baik finansial, dukungan keluarga, alokasi waktu, cara memilih pergaulan, semangat belajar dan kemampuan memotivasi diri sendiri demikeberhasilan kebun kelapa sawit yang diusahakan.

PERMODALAN

Seluruh rangkaian itu, kata Indra, poin penting adalah permodalan. “Modal adalah hal yang penting, tapi bukan syarat utama penentu keberhasilan. Tekad, kemauan berkorban dan konsistensi adalah pintu utama”katanya.

Bagi kebunyang belum menghasilkan, sebagian besar lembaga pembiayaan baik perbankan maupun nonperbankan belum bisa menjangkau pekebun, karena dianggap belum memiliki kemampuan mengembalikan pinjaman, kecuali pekebun yang memiliki sumber pendapatan lain. Jika tidak cermat mengelola kebun dengan menggunakan dana perbankan, pekebun dapat terjerat utang yang sangat membebani.

Mengingat risiko yang tinggi pada tanaman muda /belum menghasilkan, sebaiknya  pekebun berusaha menyediakanmodal mandiri dengan berbagai cara. Kedepan, semestinya ada program khusus dari pemerintah untuk membantu pekebun membangun kebunnya.

Cara lain adalah melalui kemitraan antara pekebun dengan perusahaan besar yang memiliki kepedulian terhadap pekebun.“Ini bisa dilakukan  dengan melibatkan pemerintah daerah,” ujarnya.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, SELASA, 23 NOPEMBER 2010

 


Artikel Terkait