Petani Plasma Kian Mendukung Sawit Berkelanjutan
04 Mei 2012 Admin Website Artikel 345

JAKARTA. Petani plasma nasional semakin banyak yang mendukung produk sawit yang berkelanjutan. Salah satunya ditandai dengan ada penambahan produksi sawit yang bersertifikat CSPO (Certified Sustainable Palm Oil).

Menurut organisasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), penambahan produksi mencapai 54.282 metrik ton CSPO oleh petani plasma di Indonesia. Artinya produksi CSPO oleh petani plasma paling banyak berasal dari Indonesia.

"Sudah tidak diragukan lagi bahwa Indonesia sedang berada di titik tertinggi dalam perubahan menuju sustainability (keberlanjutan). Indonesia tidak hanya sebagai negara produsen CSPO nomer satu, akan tetapi kontribusi dari para petani plasma Indonesia dalam mendukung CSPO juga patut kita acungi jempol," sebut Sekretaris Jenderal RSPO, Darrel Webber dalam rilis yang diterima Kompas.com, Kamis (3/5/2012).

Ia meyakini perkembangan positif dari para petani plasma dapat mengajak lebih banyak pemangku kepentingan untuk mempraktekkan keberlanjutan. Menurut dia, perkembangan itu juga bisa membuka akses bagi petani untuk memasuki pasar baru minyak sawit berkelanjutan bersertifikat RSPO.

Penasehat RSPO, Bungaran Saragih, menyampaikan rasa puasnya tentang pencapaian para petani plasma Indonesia. Menurut dia, prestasi dari petani plasma ini adalah bukti bahwa Indonesia berada di jalur yang benar dalam mentransformasi pasar menuju keberlanjutan.

"Di tahun 2011, 38 persen dari total produksi Crude Palm Oil (CPO) di Indonesia atau sebesar 8.627.883 metrik ton merupakan hasil produksi dari smallholders," sebut Bungaran.

Oleh karena itu, kata dia, petani plasma dan petani swadaya harus diikutsertakan dalam upaya mentransformasi pasar minyak sawit.

Hal ini dapat dicapai dengan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, seperti pemilik pabrik pengolahan minyak sawit, pemerintah dan juga pasar minyak sawit itu sendiri.

"Para petani tersebut telah menunjukkan komitmen untuk berubah, tetapi kita semua tetap harus membantu mereka," tambah Bungaran.

DIKUTIP DARI KOMPAS, 3  MEI 2012

Artikel Terkait