Panen Busuk, Petani Perlu Pabrik CPO
31 Oktober 2011 Admin Website Artikel 337

PENAJAM - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Penajam Paser Utara diminta memberi perhatian serius terhadap kelangsungan petani kelapa sawit untuk mengantisipasi keberlanjutan ekonomi mereka pada puluhan tahun ke depan. Paling tidak, pemerintah daerah saat ini diharapkan membuka peluang investasi untuk pembangunan pabrik pengolahan crude palm oil (CPO) kelapa sawit di daerah ini.

Ketua DPD Asosiasi Pekebun Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Penajam Paser Utara Sunyoto didampingi Humas Ari Arief kemarin (30/10), mengungkapkan bahwa animo masyarakat dalam beberapa tahun terakhir untuk berkebun kelapa sawit cukup tinggi. Bila saja hal ini tidak diimbangi dengan pembangunan pabrik pengolahan sangat dimungkinkan bakal jadi persoalan di tahun mendatang.

Ia mencontohkan, sekarang ini saja hampir setiap saat terdengar keluhan petani kelapa sawit yang hasil panennya membusuk karena harus menunggu antrean masuk pabrik untuk diolah jadi CPO. Jumlah pabrik yang ada sekarang ini tidak sebanding dengan luasan kebun kelapa sawit. “Contoh soalnya, salah satunya terjadi di Desa Bukit Raya, Kecamatan Sepaku yang petaninya mengeluh panen sawitnya tak terangkut ke pabrik, dan kelamaan antre. Setiap kali hasil kelapa sawit petani busuk berdampak pada harga jadi turun drastis,” kata Sanyoto.

Ia mengatakan, sejak awal persoalan pekebun kelapa sawit terkesan klasik, yaitu tidak terangkut ke pabrik sehingga buah sawit jadi busuk di tanah, dan pabrik pengolahan CPO yang terbatas. Karena itulah, DPD Apkasindo Penajam Paser Utara kembali mengangkat persoalan ini ke permukaan agar pemerintah daerah yang mengusung meningkatkan ekonomi kerakyatan itu sejak dini memikirkan kelanjutan nasib kelapa sawit.

Pekebun kelapa sawit di Desa Bukit Raya, Nurhadi punya pengalaman buruk berkaitan dengan membusuknya hasil panen kelapa sawit. “Karena busuk itu buah kelapa sawit harus melalui sortir pabrik yang ketat, sehingga terjadi penyusutan sampai 30 persen. Keadaan seperti ini bila dibiarkan terus-menerus justru malah merugikan pekebun kelapa sawit,” tutur Nurhadi sembari memberitahukan jumlah buah kelapa sawit yang busuk angkanya menunjuk puluhan ton setiap kali panen.

Dulu, anggota DPRD Penajam Paser Utara Musliman yang tinggal di Sepaku berjanji membawa koleganya di Dewan untuk meninjau kondisi pekebun kelapa sawit di Sepaku. Ia berharap setelah peninajaun lembaganya bisa turut memberi solusi untuk mengatasi persoalan pekebun kelapa sawit secara permanen.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, SENIN, 31 OKTOBER 2011

Artikel Terkait