Nilam Bakal Jadi Komoditas Utama
28 Januari 2010 Admin Website Artikel 388
#img1# KENDATI Kutai Timur (Kutim) memiliki potensi SDA yang melimpah, terutama tambang dan migas dan saat ini masih menjadi pemasukan utama bagi Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah (APBD), bukan berarti Pemkab Kutim terus memanjakan diri terhadap hasil tambang tersebut. Sejak 2001 lalu, pemkab telah mencanangkan program pertanian dalam arti luas untuk masa depan Kutim.

Tanaman nilam misalnya. Komoditas ini mulai dikembangkan sejak 2006 lalu. Selama empat tahun terakhir ini, pertumbuhan tanaman itu cepat sekali menyebar di tiga kecamatan, yakni Sangatta Selatan, Bengalon, dan Rantau Pulung. Masyarakat melalui swadaya terus mengembangkan tanaman yang satu ini dengan bantuan dan bimbingan sejumlah pihak.

Melalui bimbingan Pechole Borneo, para petani nilam terus mengembangkan tanaman yang menghasilkan minyak atsiri tersebut. Di pasaran, harga minyak nilam ini bervariasi dan terus mengalami kenaikan, sehingga petani memiliki semangat untuk mengembangkan tanaman tersebut. Ketika rombongan Pemkab Sumedang bersama Komite Kluster Medal Wangi Nilam berkunjung ke Kutim belum lama ini, juga mengakui jika Kutim memiliki kelebihan masalah komoditas yang satu ini. Dari tiga kecamatan yang sudah mengembangkan tanaman nilam tersebut, telah mempunyai 14 penyulingan. Jumlah yang cukup banyak dan besar.

Rombongan Pemkab Sumedang ini dipimpin Kabid Bidang Industri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumedang. Dalam rombongan itu juga terdapat kelompok tani yang mengembangan komoditas nilan dengan nama Komite Kluster Medal Wangi Nilam yang menaungi para petani nilam di sana. Selain itu juga ada perwakilan JICA yang memberikan bimbingan pengembangan nilan di Sumedang selama ini.

Sedangkan Kabid Perindustrian Disperindag Sumedang Atang Suparman yang memimpin rombongan mengatakan, tujuannya ke Kutim ini untuk melakukan studi banding, terutama menyangkut manajemen produksi dan pengembangan tanaman nilam di daerah ini.

Meski Kutim baru mengembangkan tanaman nilam, namun kabupaten ini dinilai lebih baik dalam hal manajemen dan pengembangan produksi tanaman tersebut. "Apalagi Kutim dan Sumedang memiliki nilai sejarah yang baik dan hubungan ini kita harapkan terus bisa dijalin ke depan. Kita yakin, Kutim memiliki kelebihan yang banyak, terutama luas wilayah dan berbagai hal, termasuk pengembangan nilam," katanya. Mereka mengaku ingin pengembangan nilam yang akan dijadikan salah satu produk unggulan di Sumedang ke depan, sehingga perlu terus dikembangkan. "Kami selaku dinas teknis hanya memberikan dorongan kepada petani dan petani itu sendiri yang mengembangkan. Mulai penanaman sampai manajemen produksi hingga pemasarannya," kata Atang.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, KAMIS, 28 JANUARI 2009

Artikel Terkait