Mengintip Dampak Perkebunan di Kukar (1)
21 Oktober 2010 Admin Website Artikel 297

TENGGARONG, KALTIM POST. Sektor perkebunan di Kutai Kartanegara (Kukar) kabarnya potensial, namun belum banyak masyarakat yang merasakan dampaknya. Bahkan banyak yang menyebut kebun sawit menyusahkan warga karena tumpang tindih lahan. Padahal, beberapa desa sudah sangat maju karena program plasma, hingga memiliki perputaran uang Rp 1 miliar per bulan.

KONDISI saat ini ada 15 perusahaan sawit beroperasi di Kukar, dengan luas hingga 300 ribu hektare. Bila melihat proyeksi hak plasma yang harusnya diterima masyarakat, yakni 20 persen dari luas lahan, maka seharusnya ada 60 ribu hektare yang dinikmati warga. Kenyataannya, saat ini baru 13 ribu hektare plasma sawit yang dikelola masyarakat sekitar.
“Makanya, kami mengejar target 30 ribu plasma sawit di akhir tahun ini. Kami yakin bisa terpenuhi. Karena banyak perusahaan yang sikapnya mendukung, di internal kami juga faktor mutasi justru membuat solid,” kata Kepala Dinas Perkebunan Hairil Anwar, kemarin.

Dicontohkannya, salahsatu perusahaan yang sudah memaksimalkan perannya meningkatkan kesejahteraan desa adalah PT Tunas Prima Sejahtera (TPS). Perusahaan ini memiliki lahan yang masuk ke wilayah Kecamatan Kenohan dan Kembang Janggut. Tujuh desa di bawah naungannya yakni Loa Sakoh, Hambau, Genting Tanah di Kembang Janggut dan Kahala, Tuana Tuha, Teluk Muda, Teluk Bingkai di Kenohan. Tiga di antaranya telah memiliki koperasi untuk mengelola hak plasma sawit, yakni di Loa Sakoh, Hambau dan Tuana Tuha.

Sebelum masuknya TPS pada 2006, kondisi di desa ini masih minim. Pendapatan masyarakat hanya berkisar ratusan ribu rupiah per bulan, yang kebanyakan dari budi daya tambak udang. Kualitas pendidikan rendah dan kesejahteraan minim. Setelah TPS masuk, warga lokal yang memenuhi kualifikasi banyak ditarik menjadi pekerja.
Bila dipatok upah minimum kabupaten (UMK) Rp 1,010 juta, dengan masing-masing 3 orang anggota keluarga yang bekerja di perusahaan, maka pendapatan per kepala keluarga meningkat menjadi Rp 3 jutaan. Perputaran uang desa-desa itu juga tinggi, bahkan mencapai Rp 1 miliar.

Karena TPS punya sistem dua kali sistem gaji, yakni total Rp 400 juta digelontorkan per dua minggu dan Rp 500 juta lebih di akhir bulan. TPS juga membantu berbagai donasi, termasuk perbaikan instalasi air di Desa Teluk Bingkai.
“Kami ingin memberikan kewajiban kami. Kami siap mendukung program pemerintah. Kepada masyarakat, kami juga membantu lewat donasi, baik saat hari raya keagamaan maupun 17 Agustus,” kata Manajer Personalia TPS Fatimah Luis, kemarin.

Sekretaris Disbun Kukar Marli mengatakan, peningkatan desa-desa di Kenohan dan Kembang Janggut ini membuat Disbun optimistis potensi sektor perkebunan bisa menjadi tumpuan peningkatan kesejahteraan di Kukar.
“Dulu sebelum 2006 saya ke desa itu, hanya ada sepeda sebagai alat transportasi. Kini semua pakai motor, berjejer di pelabuhan dan di jalan. Tiap bulan, ada saja motor baru yang dibeli. Ini bukti ada peningkatan kesejahteraan warga dari sektor ini,” kata Marli. (che/bersambung).

 

DIKUTIP DARI KALTIM POST, RABU, 20 OKTOBER 2010


Artikel Terkait