"Kurangi Ekspor Batu Bara dan Minyak Sawit"
23 Mei 2009 Admin Website Artikel 375
#img1# "Kenapa merugikan? Ekspor material mentah itu nilai ekonominya kecil, padahal volume material sangat besar," ungkapnya saat pertemuan di Lamin Etam, Samarinda, Rabu (20/5). Kadiman mencontohkan, sejak era pemerintahan Presiden Soekarno, sudah ada usaha untuk meningkatkan nilai ekonomi sumber daya alam.

Di Kaltim, untuk mengolah minyak bumi, sejak dulu penyulingan minyak bumi dibangun di Pertamina Unit Pemasaran V, Balikpapan. Sedangkan PT Badak NGL Bontang mengolah gas alam. Demikian halnya Pupuk Kaltim (PKT) di Bontang. "Jadi yang diekspor itu bukan minyak mentah dan gas alam, tapi produk turunannya yang memiliki nilai ekonomi tinggi," terangnya.

Lantas, bagaimana dengan batu bara dan CPO yang saat ini produksinya cukup besar? Kadiman menilai, perlu ada pergeseran strategi. "Ekspor sumber daya alam kita harus diubah menjadi volume yang kecil dengan nilai ekonomi yang besar," ulasnya.

Pengolahan CPO di Kaltim, bisa dengan membangun pabrik pengolahan seperti pabrik minyak goreng dan biodiesel. Sedangkan batu bara, dengan membangun pembangkit listrik tenaga uap yang bahan bakarnya emas hitam.

"Indonesia punya teknologinya. Selama ini, ratusan ton batu bara dikirim ke Jawa untuk pembangkit listrik. Kaltim dapat apa? Kenapa hanya diam saja? Seharusnya listrik justru bisa dihasilkan di sini," ungkap menteri yang sebelumnya menjabat sebagai Rektor Institut Teknologi Bandung pada 2001 hingga 2004 ini.

Dia mengatakan, biaya untuk mengirim listrik dibanding mengirim batu bara dari Kaltim ke Jawa jauh lebih murah. "Para peneliti pasti tahu. Lebih mudah dan murah menarik kabel dari Kalimantan ke Jawa daripada mengapalkan batu bara," ucap pria berkacamata ini.

Pembangkit listrik dengan bahan bakar batu bara, menurut Kardiman, telah dibangun di Kalimantan Selatan. "Kementerian Ristek membantu dengan mengirimkan tenaga ahlinya. Di Kaltim, bukan tidak mungkin hal yang sama bisa terjadi," ujarnya.

Menanggapi itu, Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak menyatakan, program pembangunan strategis ke arah tersebut sudah direncanakan. "Apa yang dikatakan Pak Menteri sejalan dengan program kami. Apalagi, jika dibantu dengan tenaga ahli. Saya sudah meminta untuk didatangkan tenaga ahlinya," ujar Faroek.

Menurut gubernur, beberapa program prioritas seperti pembangunan free way, pelabuhan laut, dan peningkatan agroindustri membutuhkan peran teknokrat.

BERI PERINGATAN

Sebelumnya, Selasa (19/5) malam, di tempat yang sama, Kadiman juga mengingatkan, pembangunan tidak cukup hanya on the right track (pada jalan yang tepat) saja. Ini terkait banyaknya program pembangunan di Kaltim yang direncanakan gubernur.

"Lebih jauh, ada 3 hal penting yang perlu diperhatikan. Yakni, pertama, on the right direction (pada arah yang tepat). Percuma saja, jalannya benar, tapi salah arah," terangnya, dalam acara silaturahmi Pemprov Kaltim dengan Menegristek di Lamin Etam, Selasa (19/5) malam.

Yang kedua menurutnya, on the right speed (pada kecepatan yang tepat). "Meskipun jalan dan arahnya sudah benar, tapi kecepatan pembangunan seperti siput, sama saja bohong," ungkapnya. Terakhir, sambungnya, yakni memastikan semua orang merasa aman dan nyaman.

"Sebagai sesama akademisi, saya kenal dengan Pak Gubernur sejak lama. Saya tahu, banyak hal besar yang direncanakan dan menjalankannya dengan sungguh-sungguh," sebutnya. Namun demikian, perlu ada prioritas di antara program-program itu. Harus buat daftar prioritas, bukan memprioritaskan daftar," tutup Kadiman.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, KAMIS, 21 MEI 2009

Artikel Terkait