Jajaki Penjualan ke Purwokerto
28 November 2011 Admin Website Artikel 321

SENDAWAR. Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop dan UKM) Kubar, Milon, mengatakan, pihaknya sedang menjajaki penjualan karet kentalan/basah ke Purwokerto. Direncanakan, tahap ujicoba melalui sebuah koperasi di Kecamatan Barong Tongkok, pekan depan akan mengirim karet 40 ton ke Purwokerto.

“Kalau harganya bagus, maka akan diperluas pembelian karet petani di Kubar. Soal harga beli karet di Purwokerto masih dinegosiasi, mudah-mudahan bisa menjawab keluhan petani yang kini harganya terus merosot,” kata Milon, Minggu (27/11) kemarin.

Sebelumnya, ribuan petani karet di Kubar resah menyusul mendadak anjloknya harga beli karet dari pengumpul, sejak sepekan ini. Dari harga normalnya Rp 13 ribu sampai 17 ribu per kg, kini hanya dibeli Rp 7 ribu dan maksimal Rp 8 ribu per kg.

“Kami bingung kok mendadak turun harga beli karet Rp 7 ribu per kg. Kalau begini mau makan apa petani karet,” keluh Yunsen kepada harian ini, ditemui di kediamannya di Kecamatan Barong Tongkok. Hal senada diakui Tuminah, petani karet dari Kecamatan Sekolaq Darat, dan belasan petani karet lainnya.  Petani berharap, agar pemerintah bisa turun tangan membantu petani. Karena jika harga karet ini terus menurun hingga berbulan-bulan berdampak kepada sulitnya warga untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Milon mengatakan, soal harga karet ini pemerintah sudah berupaya agar daya jual karet petani tetap stabil dan berharap akan terus naik. Namun, upaya itu sangat sulit, karena harus mengikuti harga pasar. Milon menampik, turunnya harga karet harus ditanggulangi dengan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kubar. Jika ini dilakukan dipastikan akan berpotensi pelanggaran hukum.

“Jadi tidak benar juga kalau pemerintah terkesan mengabaikan soal harga karet petani ini. Namun sebaliknya telah berupaya terus,” bantahnya.  

Menurut Milon, upaya yang sudah dilakukan belum lama ini mengundang 3 investor dari Jakarta dan Surabaya. “Awalnya setuju, setelah melihat kondisi infrastruktur (jalan trans Kalimantan) dari Kubar ke Samarinda yang sangat tidak mendukung akhirnya mereka membatalkan,” ungkap Milon.

Namun dia menyarankan petani bisa meniru petani karet di Kampung Linggang Amer, Kecamatan Linggang Bigung. “Di Sana  berdiri sebuah peralatan yang menggiling sekaligus mengeringkan karet kentalan menjadi lembaran karet kering. Alat ini, satu satunya di Kubar. Meski alat ini terjadi penyusutan dari 1 ton karet basah menjadi 400 kg karet kering. Tapi harga jual karet keringnya sangat tinggi yakni Rp 40 per kg. Karetnya dikirim ke Semarang,” kata dia.

Mengolah karet kering ini, tidak merugi dibandingkan karet basah akan terjadi penyusutan terus jika petani tidak segera menjualnya. Agar alat ini lebih banyak, Milon mengatakan, membuat usulan pengadaan dua unit alat tersebut kepada pemerintah provinsi.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, SENIN, 28 NOPEMBER 2011

Artikel Terkait