Tambah Pengetahuan Petani dengan Teknik Pertanian yang Mudah Diserap
24 Juni 2011 Admin Website Artikel 284
TENGGARONG. Penas XIII Petani Nelayan 2011 resmi ditutup, Kamis (23/6) kemarin. Apa yang seharusnya bisa dipetik dari gelar akbar petani nelayan nasional tersebut? Jawabnya tidak jauh dari tuntutan keberpihakan kebijakan nasional kepada para petani dan peningkatan pengetahuan sebagai motivator peningkat semangat petani.

"Sukses Penas jangan hanya dilihat dari sisi seremonialnya saja. Lebih penting dari itu, ke depan adalah bagaimana pengetahuan para petani nelayan bisa lebih ditingkatkan sehingga tujuan utama penyelenggaraan Penas benar-benar tercapai," kata Ketua Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan Kaltim, HM Yadi Sofyan Noor, usai penutupan Penas XIII oleh Menteri Pertanian Suswono.

Gambaran peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani nelayan setidaknya bisa dilakukan dengan memperbanyak program pelatihan yang lebih mudah diserap dan diimplementasikan petani nelayan dalam aktifitas mereka sehari-hari. Potensi pertanian Kaltim yang tumbuh subur di sekitar area display Penas XIII menurut Yadi Sofyan Noor menjadi logika yang sangat mudah untuk dijelaskan. Artinya, potensi pertanian Kaltim ternyata begitu luar biasa jika dikelola dengan serius dan benar.

"Kita bisa lihat display Penas. Saya kira, petani kita perlu terus dipacu dan ditingkatkan pengetahuan tehnis dan aplikasi lapangan tentang pertanian dengan pola-pola yang mudah diserap. Jika itu bisa ditingkatkan, saya sangat yakin pertanian Kaltim akan semakin maju," jelasnya.

Terkait masalah permodalan yang kerap menganggu pengembangan usaha pertanian, Yadi Sofyan Noor mengatakan pemerintah perlu segera memikirkan kebijakan baru tentang Perbankan menuju keberpihakan terhadap rakyat. Usul pendirian Bank Pertanian menurutnya sangat baik, tetapi sangat penting untuk dipikirkan agar petani tidak lagi-lagi berhadapan dengan prosedur Perbankan yang rumit dan sulit.

"Pemerintah perlu segera memikirkan sistem Perbankan yang mudah seperti pegadaian. Ibaratnya, petani yang tidak bersekolah sekalipun bisa memperoleh pinjaman," beber Sofyan Noor yang biasa disapa Ucup. Tapi Sekretaris Jenderal Kelompok KTNA ini juga mengakui tidak mudah untuk mewujudkan pola perbankan seperti itu.

Kemudahan itu bisa diwujudkan jika reformasi agraria berjalan baik termasuk proses pembuatan sertifikat lahan para petani. Dengan dasar sertifikat tersebut, para petani akan lebih mudah mendapatkan pinjaman. Sementara itu terkait pelaksanaan Penas kali ini, Yadi Sofyan Noor mengatakan secara umum penyelenggaraan berjalan sukses dan lancar, meski diakui masih terjadi sejumlah kekurangan.

"Alhamdulillah, Penas berjalan sukses dan lancar. Tetapi kami tetap akan melakukan evaluasi setelah ini," pungkasnya.

SUMBER : HUMAS PROV. KALTIM

Artikel Terkait