Harga Patokan Ekspor Sawit Diusulkan Pakai Kurs Rupiah
15 November 2010 Admin Website Artikel 342

Jakarta - Gabungan Pengusaha Kepala Sawit Indonesia (Gapki) mengusulkan agar pemerintah menetapkan harga patokan ekspor (HPE) menggunakan nilai mata uang rupiah. Selama ini HPE ditetapkan melalui SK Menteri Perdagangan setiap bulannya memakai basis kurs dolar AS.

"Januari kita akan paksalah (Menteri Perdagangan) pakai rupiah untuk HPE," kata Sekretaris Umum Gapki Joko Supriyono di kantornya, Jakarta, Senin (15/11/2010)

Joko mengatakan masalah ini tengah diusulkan oleh para produsen sawit ke pemerintah terkait proses revisi ketentuan regulasi Bea Keluar Sawit.

Penetapan HPE memakai rupiah setidaknya mencerminkan jika Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia yang seharusnya bisa menentukan pasar termasuk soal HPE berbasis rupiah.

Ia juga mengatakan saat ini tingkat kepercayaan pasar terhadap dolar AS mulai menurun. Setidaknya ditandainya melemahnya dolar terhadap mata uang negara-negara di dunia termasuk terhadap mata uang rupiah.

Sementara itu Ketua Bidang Organisasi Gapki Bambang Aria Wisena mengatakan penetapan HPE dengan rupiah sangat mungkin. Bahkan bukan itu saja, Indonesia pun berpeluang menjadi basis penetapan harga internasional produk sawit dunia, Indonesia sudah memiliki Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) dan ICDX.

"Memang itu harus ada trust (kepercayaan) dari lokal," kata Bambang.

Ia mengatakan setidaknya harus ada transparansi data antara pelaku sawit di dalam negeri. Sehingga volume perdagangan di dua tempat pasar komoditi tersebut terus meningkat dan pada akhirnya akan menentu harga sawit secara internasional.

"Kalau volume bagus bisa menjadi referensi (harga)," katanya.

 

DIKUTIP DARI DETIK, SENIN, 15 NOPEMBER 2010


Artikel Terkait