Ternak Sapi di Kebun Sawit Untungkan Petani
25 Juni 2009 Admin Website Artikel 316
#img1#

























"Pola yang ditempuh Bupati Paser Ridwan Suwidi dalam menerapkan integrasi sapi-sawit atau beternak sapi di lahan perkebunan sawit ini sangat menguntungkan masyarakat," kata Awang Faroek Ishak saat melakukan kunjungan kerja ke lahan integrasi sapi-sawit di Desa Suatang Bulu, Kecamatan Paser Belengkong, Kabupaten Paser.

Dengan pola tersebut, keuntungan yang didapat masyarakat berlipat. Untuk itu petani atau peternak tidak perlu lagi mencarikan rumput untuk pakan sapi sebab telah tersedia rumput hijau di areal perkebunan. Selain itu, petani juga tidak perlu membersihkan rumput yang bisa saja mengganggu pertumbuhan kelapa sawit. Pasalnya telah ada sapi yang merumputnya dan di sisi lain kotoran sapi juga bisa menjadi pupuk alami untuk menyuburkan sawit.

"Kegunaan lain adalah kotoran sapi bisa menjadi biogas yang digunakan untuk keperluan memasak. Ini merupakan langkah yang baik dilihat dari sisi perekonomian masyarakat," kata Faroek di depan Bupati Paser Ridwan Suwidi dan sejumlah Kepala Dinas dan instansi saat mengunjungi lokasi.

Adanya pemanfaatan kotoran sapi menjadi biogas tersebut menjadikan petani lebih berhemat sebab masyarakat tidak perlu lagi membeli minyak tanah atau elpiji.

Kepala Dinas Peternakan Paser Asmuni Samad mengatakan, pengembangan ratusan ekor sapi di atas lahan kebun sawit seluas 20.000 hektar diterapkan dua sistem, yakni sistem intensif (dikandangkan) dan sistem terintegrasi (dilepas di kebun sawit).

Secara keseluruhan, jumlah ternak sapi di Paser lebih dari sejuta ekor, tetapi khusus yang terintegrasi dengan sapi-sawit jumlahnya sekitar 500 ekor. Dari jumlah tersebut sebagian kecil ada yang dijual masing-masing pemilik untuk berbagai kebutuhan. Jenis sapi yang dipelihara yakni Brahman cross, bali, dan simetal.

Keuntungan lain dari pola integrasi ini, katanya, sapi-sapi tersebut bisa digunakan sebagai tenaga kerja mengangkut buah sawit hingga ke pinggir jalan dengan menggunakan gerobak. Pola seperti ini tentu saja sangat menguntungkan petani.

"Sistem pertanian terintegrasi sapi-sawit ini kami lakukan karena menindaklanjuti keinginan pak gubernur dan pak bupati yang meminta agar dilakukan revitalisasi pertanian dalam arti luas," kata Asmuni Samad.

DIKUTIP DARI KOMPAS, RABU, 24 JUNI 2009

Artikel Terkait