Gernas Menggenjot Produksi Kakao
25 Juli 2009 Admin Website Artikel 370
Keberhasilan Indonesia menyalip Malaysia sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia nampaknya memacu tekad pemerintah untuk menjadi produsen kakao (bahan baku coklat) terbesar dunia. Apalagi setelah negeri ini mampu menyalip Ghana menjadi produsen kakao terbesar kedua di dunia dengan produksi 795.000 ton/tahun, di bawah Pantai Gading yang menghasilkan 1,3 juta ton/tahun.

#img1# Departemen Pertanian sendiri memasang target produksi biji kakao nasional 2 juta ton pada tahun 2020. Dengan luas perkebunan kakao nasional saat ini mencapai 1,5 juta hektare (ha), target itu memang bukan impian. Pasalnya, produktivitas kakao petani sekarang terbilang rendah, yakni sekitar 660 kg/ha akibat hama penyakit serta tanaman yang relatif tua.

Produktivitas kakao petani memang merisaukan. Padahal, jika mampu menghasilkan potensi produktivitasnya menjadi 1,1 ton/ha, maka merubah status menjadi produsen kakao terbesar di dunia tinggal tunggu waktu.

Potensi ini yang sekarang digenjot pemerintah melalui Gernas kakao, yang dicanangkan tahun lalu. Dengan anggaran Rp 1 triliun, Departemen Pertanian akan melakukan tiga program, yakni intensifikasi, rehabilitasi dan peremajaan mulai tahun 2009 sampai 2011. Dalam kurun tiga tahun itu, pemerintah membidik perbaikan kebun kakao seluas 450.000 ha. Perinciannya, areal intensifikasi seluas 145.000 ha, rehabilitasi 235.000 ha dan peremajaan 70.000 ha.

Yang menarik, Gernas memperoleh dukungan kuat dari raksasa produsen makanan dan minuman global, Nestle. Perusahaan asal Swiss ini memberikan secara cuma-cuma hak paten teknologi Somatic Embriogenesis (SE). Inilah teknologi perbanyakan benih secara massal dengan bibit yang bebas hama penyakit. Bibit ini juga mampu panen lebih cepat sekitar 4 bulan. Dan yang menggiurkan, produktivitas bibit SE bisa mencapai 3 ton/ha.

Teknologi ini yang diberikan Nestle kepada Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka), Jember. "Benih kakao yang dihasilkan Puslitkoka merupakan hasil teknologi SE yang berasal dari Nestle. Bahkan, lembaga penelitian yang berlokasi di Jember itu sudah mendapatkan property right mengembangkan benih kakao di Indonesia," jelas Direktur Perbenihan dan Sarana Produksi, Ditjen Perkebunan Departemen Pertanian, Darmansyah Basyaruddin.

Kepala Puslitkoka, Teguh Wahyudi mengatakan, mulai 2009 mereka akan memproduksi 20,6 juta bibit kakao, pada 2010 sekitar 25 juta bibit dan 2011 sekitar 25 juta bibit. Jumlah tersebut disesuai dengan rencana pemerintah untuk merehabilitasi tanaman kakao. "Meski diadopsi dari Prancis, justru teknologi SE untuk tanaman kakao ini menjadi satu-satunya di dunia," tutur Teguh.

Inilah upaya terbaru yang menjadi salah satu unggulan Deptan, khususnya Ditjen Perkebunan. Lewat Gernas, pemerintah berharap produktivitas tanaman kakao rakyat kembali normal, bahkan bisa mencapai 1,5-3 ton/ha. Jika tahun ini hanya menyentuh 40 kabupaten di 9 provinsi, tahun depan Gernas diperluas menjadi 57 kabupaten di 15 provinsi dengan anggaran ditambah menjadi Rp 1,5 triliun.

DIKUTIP DARI AGROINDONESIA, RABU, 22 JULI 2009

Artikel Terkait