Disayangkan CPO Gagal Masuk Ramah Lingkungan
11 September 2012 Admin Website Artikel 306
JAKARTA. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyayangkan penolakan forum APEC terhadap usulan Indonesia agar minyak sawit mentah (CPO) masuk sebagai satu dari 54 produk ramah lingkungan (goods environmental).

"Pertemuan APEC memang penting meski tidak memiliki keterikatan anggota untuk mentaati suatu keputusan, tetapi sayangnya CPO tidak disetujui APEC sebagai 'goods environment' dengan alasan yang sampai kini banyak pihak yang belum mengetahuinya," kata Ketua Gapki M Fadhil Hasan dihubungi di Jakarta, Senin (10/9).

Fadhil mengatakan pemerintah sudah berupaya dengan berbagai pertimbangan dan argumen kuat mengenai bagaimana CPO dari Indonesia memiliki skala tertentu untuk menjadi produk ekspor yang ramah lingkungan.

"Pada awalnya kita berharap banyak bila Indonesia berhasil meloloskan CPO menjadi produk ramah lingkungan karena pertumbuhan ekspor tentu akan positif," katanya.

Namun, pihaknya yakin bila permintaan terhadap CPO Indonesia akan tetap tinggi meski APEC tidak memasukkan minyak sawit sebagai produk ramah lingkungan. Masih ada peluang pembayaran bea masuk CPO ke suatu negara akan rendah seiring perjanjian perdagangan bilateral.

Menurut Fadhil, CPO dalam negeri layak dikategorikan sebagai produk ramah lingkungan karena dalam implementasi "Indonesia Sustainable Palm Oil" (ISPO) perusahaan kelapa sawit di Indonesia diwajibkan untuk menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam produksinya.

ISPO merupakan sistem verifikasi untuk meningkatkan daya saing CPO Indonesia di tataran lokal dan internasional.

Menurut Fadhil, isu emisi gas rumah kaca yang membuat CPO Indonesia diboikot Amerika Serikat masih bisa diperdebatkan dan butuh penelitian ilmiah lebih lanjut.

"Kalau sejumlah perusahaan Indonesia menerapkan ISPO, CPO bisa dikategorikan sebagai produk hijau ramah lingkungan," katanya.

Gapki menilai pasar ekspor minyak kelapa sawit semakin bersaing apabila komoditas ini masuk dalam daftar produk ramah lingkungan kaarena tarif bea masuknya dipatok maksimal lima persen di negara-negara Asia Pasifik.

"Pertemuan APEC memang mengusung banyak kepentingan dari anggotanya," kata Fadhil.

Fadhil mengatakan, pertemuan APEC tahun 2012 ini lebih banyak dibayangi oleh masalah ekonomi di berbagai negara di Asia, krisis ekonomi Eropa, dan pertumbuhan ekonomi Amerika yang lamban.

DIKUTIP DARI MEDIA INDONESIA, SELASA, 11 SEPTEMBER 2012

Artikel Terkait