Banyak Bibit Kakao Belum Ditanam
17 April 2008 Admin Website Artikel 334
Sebab jika tidak segera ditanam di lokasi yang telah disiapkan, dikhawatirkan bibit akan layu dan mati.

#img1# Hal itu disampaikan Camat Malinau Barat Juid SSos saat melakukan kunjungan dan monitoring di salah satu pembibitan kakao milik masyarakat yang siap untuk ditanam.

"Bibit-bibit ini harus ditanam dengan segera supaya bisa tumbuh dan memiliki harapan untuk peningkatan ekonomi masyarakat. Jangan hanya terkesan dibiarkan dan menumpuk di bawah kolong rumah atau di bawah pohon seperti ini," imbaunya kepada salah seorang petani kebun.

Dikatakan, perhatian pemerintah terhadap kegiatan perkebunan ini setiap tahun diperlihatkan dengan penyediaan bibit-bibit dan pengembangannya dalam upaya meningkatkan ekonomi masyarakat.

Tugas masyarakat untuk mendukung program, yakni dengan melakukan penanaman, perawatan sampai menikmati hasil panen dari program tersebut secara berkelanjutan.

Selain itu, program perkebunan kakao ini juga merupakan salah satu program unggulan Gerbang Dema di Kecamatan Malinau Barat.

"Apabila bibit yang sudah disalurkan atau diberikan itu tidak ditanam, kelompok tani atau masyarakat itu sendiri yang merugi karena tidak dapat menikmati hasilnya kemudian hari," sebutnya.

Oleh sebab itu, kelompok tani dan atau masyarakat tidak perlu ragu meminta bimbingan dari dinas pelaksana teknis yang membidangi perkebunan jika memang diperlukan.

Mulai dari penyuluhan tentang tata cara melakukan okulasi atau menempelkan batang ranting ke batang induk, perawatan hingga cara pengendalian hama dengan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

Ia juga menyebutkan, harga kakao saat ini mencapai Rp 7-8 ribu per kilogramnya. Harga itu sudah cukup bagus dan memiliki nilai ekonomis.

Oleh sebab itu masyarakat harus berlomba untuk bercocok tanam bagi yang baru mendapatkan bibit sampai berhasil. "Bagi yang saat ini sudah menanam, harus bisa merawat dengan baik dan mengembangkannya sampai bisa menikmati hasil perkebunannya secara berkelanjutan hingga ke anak dan cucunya kedepan," terangnya.

Juid menambahkan, Indonesia saat ini menduduki peringkat ke-7 dalam menjaga kualitas kakao secara alami karena tidak mengadung bahan kimia.

Itu karena petani menerapkan sistem pengendalian hama tepadu. Oleh sebab itu, petani kakao yang ada di Kabupaten Malinau khususnya di Malinau Barat juga harus bisa mempertahankan predikat tersebut melalui program PHT dan berusaha mengurangi penggunaan bahan pestisida.

"Sehingga mutu, harga dan kualitas biji perkebunan kakao kita mampu bersaing baik di pasar nasional maupun internasional," sebutnya.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, RABU, 16 APRIL 2008

Artikel Terkait