Wilmar Pindahkan Pabrik ke Indonesia
08 Februari 2011 Admin Website Artikel 359

JAKARTA, KOMPAS.com — Produsen minyak kelapa sawit terbesar dunia, Wilmar International Ltd., kian serius melebarkan sayap usahanya di Indonesia. Perusahaan yang bermarkas di Singapura ini berniat memindahkan enam pabriknya dari Malaysia dan China ke Indonesia. Nilai pabrik pengolahan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) tersebut mencapai 900 juta dollar AS.

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, Wilmar akan melakukan relokasi pabriknya secara bertahap dalam waktu dua tahun. "Terhitung mulai tahun ini," ujar Hidayat, Senin (7/2/2011).

Menurut Hidayat, awalnya Wilmar ingin merelokasi pabriknya ke Gresik, Jawa Timur. Wilayah ini dipilih karena fasilitas infrastrukturnya memadai sehingga relokasi bisa segera dilakukan. Namun, pemerintah meminta Wilmar agar juga mengembangkan industri hilir di luar Jawa, yaitu Riau yang menjadi salah satu sentra perkebunan sawit.

Wilmar sudah menyanggupi permintaan tersebut. Namun syaratnya, pemerintah harus membantu mengembangkan infrastruktur, terutama akses jalan menuju pelabuhan.

Selebihnya, Wilmar menyanggupi membangun sendiri beberapa fasilitas, seperti pembangkit listrik, pelabuhan, dan pipanisasi gas. “Dia keberatan kalau langsung di Riau karena infrastrukturnya mesti dilengkapi. Tapi, saya menganjurkan dilakukan bersamaan, baik di Gresik maupun di Riau,” kata Hidayat.

Merespons permintaan Wilmar, pemerintah berjanji tidak hanya memperbaiki jalan, tetapi juga kondisi pelabuhan di Riau, bahkan juga Pelabuhan Kuala Tanjung di Sei Mangke, Sumatera Utara. Ini adalah salah satu kluster industri hilir kelapa sawit di wilayah Sumatera Utara.

Selain infrastruktur, Wilmar juga meminta ada insentif yang menguntungkan bagi investor yang masuk industri hilir CPO. Secara prinsip, menurut Hidayat, Presiden setuju untuk memberikan fasilitas fiskal dan nonfiskal bagi program hilirisasi industri CPO. Insentif itu bisa berupa insentif ataupun disinsentif.

Selama ini, Wilmar Indonesia sudah bergerak di perkebunan kelapa sawit dengan luas lahan 350.000 hektar. Di industri hilir CPO, Wilmar antara lain memproduksi minyak goreng dan biodiesel. Minyak gorengnya dipasarkan dengan merek Sania dan Fortune.

Max Ramajaya, Manajer Pengembangan Bisnis Wilmar menolak berkomentar mengenai rencananya tersebut. "Persoalan ini sudah kami serahkan kepada Kementerian Perindustrian, biarkan mereka yang memberikan informasi," ujar Max.
 
DIKUTIP DARI KOMPAS, SELASA, 8 PEBRUARI 2011

Artikel Terkait