UPTD P2TP Latih Petani Kendalikan OPT Kakao
23 Juli 2012 Admin Website Artikel 351

SAMARINDA. Petani kakao di Kaltim dihimbau mewaspadai serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) pada tanaman tersebut.

"Komoditas kakao merupakan salah satu komoditi perkebunan yang banyak memberikan kontribusi kepada pendapatan petani, namun perlu diwaspadai serangan OPT yang menyerang tanaman tersebut", ungkap Kepala Disbun Kaltim diwakili Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pengembangan Perlindungan Tanaman Perkebunan, Ir. Supriyadi, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (23/7) pagi tadi.

Menurutnya, dalam budidaya tanaman kakao tidak terlepas dari gangguan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), sehingga perlu diimbangi dengan kewaspadaan, diantaranya kewaspadaan terhadap serangan OPT, karena akibat yang ditimbulkannya sangat besar, mulai dari penurunan produksi sampai dengan kematian tanaman.

Oleh karena itu, Disbun Kaltim melalui UPTD-P2TP menyelenggarakan Pelatihan Pengembangan Metode Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Tanaman Kakao, dimaksudkan memberikan dan meningkatkan pengetahuan serta keterampilan kepada petani kakao dalam pengendalian OPT tersebut. Sebanyak 75 orang petani kakao dari kecamatan Sebatik, Nunukan, kecamatan Gunung Tabur, Berau dan kecamatan Kaliorang, Kutai Timur sebagai peserta mengikuti pelatihan tersebut.

"OPT dapat menyerang tanaman mulai dari pembibitan hingga tanaman menghasilkan, oleh karena itu kegiatan perlindungan tanaman menjadi faktor kunci dalam menjamin keberhasilan budidaya tanaman kakao", ujarnya.

Selanjutnya, peranan pengendalian hama terpadu (PHT) terhadap OPT kakao diutamakan pada pengendalian secara alami dengan menciptakan keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan perkembangan hama dan penyakit, tetapi menguntungkan bagi berfungsinya agensia - agnesia pengendali alam seperti serangga parasit dan predator, serta pathogen hama.  Penggunaan pestisida diusahakan pada saat terakhir dengan tujuan untuk membantu agroekosistem kembali ke keadaan yang seimbang,

Untuk kepentingan ini sangat diperlukan pengenalan mengenai OPT utama kakao, diantaranya penggerek buah kakao serta pelaksanaan pengamatan yang berkesinambungan atas perkembangan populasi dan serangan OPT tersebut, sehingga tindakan pengendalian yang tepat dan aman dapat dilaksanakan lebih dini.

Ditambahkannya, pengendalian hama terpadu yaitu diharapkan tetap menekan populasi atau kerusakan hama dan penyakit dibawah tingkat yang tidak merugikan sehingga memberikan situasi yang mendukung sasaran produksi perkebunan tetap dapat dicapai dan kerusakan lingkungan dapat ditekan sekecil-kecilnya.

"Hasil yang akan dicapai dalam pelaksanaan kegiatan ini dimaksudkan untuk menekan populasi hama dan penyakit dari serangan 80% menjadi 30%, sehingga juga dapat meningkatkan produktivitas hasil", harapnya. (rey)

SUMBER : UPTD PENGEMBANGAN PERLINDUNGAN TANAMAN PERKEBUNAN

Artikel Terkait