Teh Jadi Komoditas Unggulan Long Uro
22 September 2008 Admin Website Artikel 289
#img1# Awal September lalu Asisten II Bidang Pembangunan Drs Udau Robinson mewakili Bupati Malinau, meninjau perkebunan teh milik masyarakat Desa Long Uro.

Peninjauan ini dalam rangka kunjungan kerja Bupati Malinau ke tiga kecamatan perbatasan untuk melihat sejauh mana perkembangan dan kemajuan yang dicapai melalui program Gerbang Dema.

Asisten II Udau Robinson mengatakan, Pemkab Malinau merasa bangga karena ternyata salah satu daerah mereka yakni Long Uro sangat cocok ditanami budidaya tanaman the.

Ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi Malinau karena Long uro satu-satunya daerah di Kaltim yang bisa mengembangkan tanaman teh dengan kualitas sama bagusnya dibanding dengan daerah Gambung, Bandung.

"Tinggal SDM-nya yang perlu ditingkatkan terus, agar bisa mengolah tanaman teh ini. Mulai pembibitan hingga menjadi bahan minuman yang siap dikonsumsi," ucapnya.

Dikatakan, pemerintah terus mendukung upaya yang dilakukan oleh pihak kecamatan dan desa dalam pengembangan tanaman teh.

Selain melalui dana Gerbang Dema, pemerintah juga memprioritaskan tanaman ini menjadi produk unggulan yang siap dipasarkan baik di dalam maupun keluar daerah melalui perusahaan daerah (Perusda) Intimung.

"Kita siap menampung dan memasarkan produk unggulan ini melalui Perusda Intimung, baik dalam jumlah kecil maupun besar", ucapnya.

Rencananya, tanaman teh akan diproduksi dengan berbagai jenis minuman, baik berupa serbuk teh, minuman teh hijau, teh dengan aroma sunkis maupun berbagai minuman lainnya. Tapi terlebih dulu tentu harus mengantongi izin produksi.

Saat ini pihak kecamatan telah mengembangkan tanaman teh seluas 10 hektare. Rencananya akan dibuka lagi seluas 16 hektare, sementara bibitnya masih didatangkan dari Bandung.

Ke depan pihak kecamatan tidak lagi mendatangkan bibit dari Bandung, namun akan diambil dari tanaman teh yang telah tumbuh, dengan cara di stek. Satu pokok teh bisa menghasilkan 30 hingga 50 stek bibit.

"Ini perhitungan minimal dari Pusat Penelitian teh dan kina (PPTK) Gambung Bandung. Tapi kalau kita lihat daerah ini yang sangat subur, bukan tidak mungkin bisa lebih banyak bibit yang akan kita hasilkan setiap hektarenya", ungkapnya.

Hamparan perkebunan produk unggulan Malinau tersebut terlihat rapi dan hijau. Bila dikembangkan maka per hektarenya bisa menghasilkan bibit sebanyak 9.620 ribu stek.

Sementara bibit yang ditanam perhektarenya berjumlah 6,66 ribu bibit, dengan jarak tanam 1 x 1.5 meter. Udau mengharapkan, agar tanaman teh benar-benar dipelihara dan dikembangkan, sehingga benar-benar menjadi teh unggulan Malinau.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, SENIN, 22 SEPTEMBER 2008

Artikel Terkait