SLTT Akan Terus Kawal Lahan - Lahan Pertanian
25 Juni 2011 Admin Website Artikel 235

TENGGARONG  Perhelatan Penas XIII Petani Nelayan 2011  di Kutai Kartanegara, Kaltim,  telah berakhir.  Ditutup oleh Menteri Pertaian, H Suswono, dengan ucapan Alhamdulillah.  Kini, yang tersisa hanya kerinduan antarpeserta  untuk bertemu kembali di ajang  yang sama,  untuk berinteraksi, tukar menukar informasi dan pengalaman dalam membangun pertanian ini.  Penas XIV Petani Nelayan tahun 2014 nanti di Jawa Tiumur.

Mentan  Suswono menghendaki  para petani nelayan  dapat memanfaatkan pembelajaran yang didapat selama mengikuti kegiatan  Penas  XIII, 18 – 23 Juni 2011.  “Penas adalah  media yang sangat baik bagi petani dan nelayan dalam meningkatkan produktifitas. Di dalamnya  terdapat gelar teknologi yang memamerkan inovasi-inovasi yang sudah diujicobakan dan berhasil,” terangnya kepada wartawan di Tenggarong, Kukar.  

Selain itu,  Penas pun dapat dijadikan sebagai ajang promosi bagi pelaku usaha dalam memamerkan berbagai produk dan temuan-temuan baru yang didapat dan bisa dikembangkan.  Dengan demikian diharapkan akan terjadi transaksi bisnis dan usaha yang saling menguntungkan di bidang pertanian.    

“Saya berharap petani dapat melihat langsung di lapangan inovasi-inovasi yang dipamerkan. Khusunya yang dihasilkan oleh Puslitbang (pusat penelitian dan pengembangan) Kementerian Pertanian,  sehingga  mereka dapat mengadopsi inovasi-inovasi tersebut untuk diujicoba dan diterapkan di daerahnya masing-masing,”  tambahnya.  

Mentan sendiri merasa terkesan dengan pelaksanaan Penas yang  bisa dikatakan sebagai jambore petani.   Penas XIII  di Kutai Kartanegara, Kaltim, ini merupakan  yang terbesar sepanjang sejarah penyelenggaraannya,  yakni dihadiri lebih dari 30.000 ribu petani nelayan se-Indonesia,  dan ditambah petani negara ASEAN dan Jepang. Pelaksanaannya pun  cukup bagus, aman dan lancar, sehingga Penas XIII disebutnya  sukses menggembirakan dan terakbar.

Bagaimana  upaya mewujudkan ketahanan pangan 3,6 juta ton beras dalam menghadapi animali iklim yang tidak stabil dan penyempitan lahan  pertanian?  Menurut  Mentan,   yang harus dilakukan adalah peningkatan produktifitas. Kementerian Pertanian  sudah menciptakan varietas benih yang tahan terhadap berbagai kondisi alam,  baik  genangan air atau rawa,  di areal kering  dan tahan serangan hama.  Antara lain  padi Inpara untuk daerah rawa, Inpago untuk daerah kering, dan inpari 13 untuk benih yang tahan  hama wereng.

“Seperti itulah upaya-upaya yang dilakukan pada sisi benih. Sedang sisi on farm atau sisi lahan pertanian akan terus dikawal oleh SLTT (Sekolah Lapang Tanaman Terpadu), karena  akan menjadi sawah percontohan. Dengan demikan diharapkan dapat meningkatkan produktifitas beras hingga 1,7 ton  per/ha,” urainya

Persoalan lain  yang juga harus diperhatikan adalah  penanganan lahan pasca panen. Jika  dibiarkan dikhwatirkan akan menyebabkan ‘loss’ atau lahan rusak. “Loss  kita hingga saat ini masih sangat besar,  sekitar 10 % sehingga kita harus meguranginya  minimal 2 % saja sudah cukup bagus,” kata menteri.

Sedang  soal penyempitan lahan,  ia  berharap  yang harus dilakukan adalah memperbaikinya dengan  pemupukan  berimbang.  Kedepan tentu diharapkan bisa dikembangkan sesuai spesifikasinya, yakni menciptakan sawah-sawah baru. Bahkan laporan  Gubernur Awang Faroek Ishak  sendiri menyebutkan, di Kaltim ini saja, misalnya,   ada potensi untuk menciptakan sawah-sawah baru seluas 150 hingga 200 ribu hektare.

SUMBER : DISKOMINFO PROV. KALTIM

Artikel Terkait