Produksi Kakao Digenjot
31 Juli 2009 Admin Website Artikel 285
Kepala Dinas Perkebunan Kutim Akhmadi Baharuddin didampingi Kepala Bidang Perlindungan Tamanan Sugianto membuka pelatihan selama 20 minggu atau 6 bulan terhadap petani kakao dari dua desa, yakni Prupuk dan Benuar Baru.

Sugianto mengataan, petani kakao sengaja dibekali ilmu agar profesional dalam mengolah kebun mereka. Petani kakao cenderung beralih profesi ke tanaman lain seperti tanam kelapa sawit, karena produksi kakao mengalami penurunan setelah dihantam hama.

#img1# Agar tanaman kakao produksinya meningkat sesuai harapan, petani dibina selama 180 hari dengan membagi dua kelompok belajar. Petani kakao Desa Prupuk terdiri dari 25 orang dan petani kakao Desa Benua Baru 25 orang. Jadi kelompok petani kakao mendapat bimbingan teknis untuk warga Prupuk pada tiap Rabu, dan warga Benu Baru tiap Kamis. "Dalam sepekan dua kali dari 50 orang petani kakao mendapat pelatihan," tukas Sugianto usai membuka pelatihan tersebut.

Kegiatan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) terhadap tanaman kakao kedepan dilaksanakan rutin tiap tahun pada warga yang berbeda. "Kegiatan SLPHT tersebut berkelanjutan," tukasnya.

Ini dimaksudkan agar petani kakao lebih konsentrasi memelihara tanaman kakao. Belakangan ini sejumlah petani, setelah tanaman kakao terserang hama, cendrung beralih ke tanaman lainnya. Inilah upaya Pemkab Kutim agar petani kakao bertahan dengan produksi terus meningkat.

Kegagalan petani kakao dalam meningkatkan produksinya, menurut Sugianto, karena sebagian petani belum paham tata cara memelihatan tanaman kakao sehingga tidak terserang hama. Kakao adalah salah satu jenis komoditas ekspor yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Jika petani kakao memahami cara merawat tanaman, mereka tidak lagi mengganti tanaman kakao di kebunnya ke tanaman sawit. Pengembangan tanaman kakao di wilayah Kutim yang potensial terus digalakan. Tanaman kakao yang ada saat ini, jangan sampai ditebang. Tanaman kakao hasilnya tidak kalah dengan tanaman kelapa sawit.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, JUMAT, 31 JULI 2009

Artikel Terkait