PPU Tetap Kembangkan Biofuel
19 Mei 2008 Admin Website Artikel 279
Pengembangan biodiesel di PPU akan dilakukan oleh masing-masing satuan kerja yang terkait dengan bahan baku biofuel. Bahan baku biofuel berupa buah jarak serta singkong. Dua satuan kerja yang terkait adalah Dinas Kehutanan dan Perkebunan serta Dinas Pertanian dan Peternakan.

#img1# "Kita tetap komit untuk ambil bagian dalam konversi biofosil ke biofuel," kata Ketua Bappeda PPU Ibrahim. Apalagi, jika konversi itu bisa membuat warga PPU sejahtera dengan menanam bahan bakunya.

Komitmen yang dicanangkan itu bukan isapan jempol belaka. Di kecamatan Sepaku sudah diprogramkan penanaman pohon jarak. Tak hanya itu saja, petani yang menanam jarak juga sudah mendapatkan pelatihan bagaimana mengolah biji jarak menjadi biodiesel.

Dikatakan juga oleh Ibrahim, cadangan minyak bumi di Indonesia diperkirakan akan habis sekitar 25-50 tahun mendatang, terlebih jika tidak segera ditemukan sumur baru. Begitu juga dengan gas bumi yang akan habis dalam waktu 45 tahun ke depan. Batu bara juga akan habis 85 tahun ke depan. "Jika tidak dimulakan sejak sekarang penggunaan biofuel, maka cadangan energi kita akan cepat habis," ujar Ibrahim.

Biofuel yang akan dikembangkan di PPU berasal dari dua tanaman. Ternyata, selain buah pohon jarak, ubi kayu atau ketela pohon juga bisa dijadikan bahan baku biofuel. Sementara, potensi ubi kayu di PPU cukup melimpah dan saat ini hanya dimanfaatkan ala kadarnya.

"Produksi ubi kayu atau singkong cukup banyak. Selaian itu, potensi lahan yang bisa diupayakan dijadikan kebun singkong juga luas. Masih banyak lahan tidur yang bisa dimanfaatkan," ujar Ibrahim.

Sementara, untuk pengembangan jarak, terus dilakukan penambahan luas areal tanaman. Tahap awal, di tahun 2007 lalu diprogramkan penanaman jarak di 9 desa di Sepaku. Dan luasan tanaman jarak akan terus ditambah.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, SENIN, 19 MEI 2008

Artikel Terkait