Pohon Penyanggah Lada Banyak yang Mati
11 Februari 2008 Admin Website Artikel 345
Apabila persoalan tidak segera ditangani, tentu petani lada di desa ini akan sangat terpukul. "Persoalan ekonomi masyakat di sini sudah bisa diatasi dari hasil penjualan lada, sehingga ketika persoalan ini datang, warga pun merasa khawatir," kata Arbain, Kamis (7/2).

Kepada anggota Komisi II DPRD Paser HM Aksa Arsyad, Arbain menjelaskan, penyebab roboh/matinya pohon dadap belum diketahui. Namun, jika pohon dadap dan ladanya sehat, petani dapat mengantongi penghasilan Rp 4 juta/bulan.

"Warga kami cuma 130 Kepala Keluarga (KK), sebagian besar mereka menanam lada di pekarangan, tetapi mampu menghasilkan lada 120 ton/tahun. Nah, jika harga lada Rp 40.000/Kilogram (Kg), maka setiap KK cukup menghasilkan 0,2 ton lada untuk mendapatkan penghasilan Rp 48 juta/tahun," tuturnya.

Menurut Arbain, Jasmanik adalah satu contoh keberhasilan petani lada di desanya. Pada tahun 2006, ia mendapatkan bantuan seng dari Pemkab Paser, sebab rumahnya saat itu masih beratapkan daun nipah. Namun akhir Desember 2007 lalu, dia panen tiga ton lada, setelah itu dia langsung bangun rumah semi permanen.

Aksa: Tanpa Pupuk Apapun

MENURUT anggota Komisi II DPRD Paser HM Aksa Arsyad, Desa Muara Kuaro terletak sekitar 10 kilometer (Km) dari Ibukota Kecamatan Muara Komam, tetapi patut menjadi contoh bagi desa lain. Karena desa ini mampu menghasilkan 120 ton lada/tahun, sehingga lada memberikan berkah kepada warga.

"Tanaman lada di sana tumbuh subur, padahal tidak diberi pupuk apapun. Ini karena Allah memberikan berkah kepada warga berupa tanah yang subur. Tapi dengan adanya persoalan banyaknya pohon dadap yang roboh, membuat warga cemas, apalagi penyebabnya belum diketahui," kata Aksa, Minggu (10/2).

Oleh karena itu, ia mewakili masyarakat Muara Komam mengharapkan pemkab melalui dinas terkait segera mencarikan jalan keluarnya. "Saya berharap insan akademis melakukan penelitian penyebab persoalan ini. Pemkab Paser melalui dinas terkait juga perlu melakukan pencegahan agar pohon-pohon dadap yang lain tidak ikut terserang," harapnya.

Putu: Saya Baru Dengar

KEPALA Dinas Perkebunan Kabupaten Paser Ir IG Putu Suwantra Msi mengaku baru pertama kali mendengar pohon dadap diserang hama, sebab selama ini belum pernah terjadi. Namun Putu belum bisa menjelaskan penyebabnya, sebelum melihat langsung ke lapangan.

"Benar, pohon dadap memang untuk tiang tanaman lada, tapi saya baru mendengar kalau pohon dadap diserang. Kalau ada, mengapa Petugas Penyuluh Pertanian (PPL) di sana tidak melaporkan informasi ini kepada saya, karena itu saya belum bisa menjelaskan penyebabnya," kata Putu.

Agar masalah ini bisa segera ditangani, lanjut Putu hari ini, Senin (11/2) ia akan melihat langsung untuk memastikan penyebabnya. "Bisa karena diserang virus, bisa juga bakteri, tapi sekarang kita belum tahu karena belum melihat langsung," tambahnya.

DIKUTIP DARI TRIBUN KALTIM, SENIN, 11 PEBRUARI 2008

Artikel Terkait