PKT Akan Ekspansi ke Industri CPO
28 November 2007 Admin Website Artikel 308
?Kami sudah menyurvei, ada sejumlah area di Kalimantan Timur. Target kami minimal 9.000 hektare dulu,? kata Direktur SDM dan Umum PKT Jusri Minansyah usai penandatanganan kerjasama kredit konsumer dengan Bank BNI bagi 2.445 karyawan PKT di Kantor BNI, Selasa (27/11).

Dia menambahkan, hingga tahun depan, setidaknya akan dibuka 20 ribu hektare. Dengan perhitungan biaya per hektare Rp 26 juta, setidaknya dibutuhkan investasi sekitar Rp 600 miliar.

Di tempat yang sama, Direktur Keuangan PKT Eko Sunarko menambahkan, fokus perseroan ke depan memang tidak hanya memenuhi kebutuhan pupuk. ?Namun juga mengarah ke bidang lain. Selama ini, perbankan seperti BNI tertarik membiayai bidang perkebunan, jadi sesuai,? kata Eko.

Eko menambahkan, CPO memang menjadi pilihan utama dibanding komoditas perkebunan lainnya. Kata dia, komoditas seperti cokelat dan kopi, memang cukup bagus. Namun harga kelapa sawit tetap yang terbaik.

?Harga sawit terendah, tidak pernah menembus ke bawah biaya produksi. Berbeda dengan kopi dan cokelat,? kata Eko. Ke depan, lanjut Eko, CPO juga menjadi energi alternatif yang bisa memenuhi kebutuhan energi produk utamanya yaitu pupuk. Selama ini, produsen pupuk masih mengandalkan gas.

Direktur Konsumer BNI Ahmad Baiquni mengatakan, pihaknya siap mendanai proyek-proyek PKT. ?Kami siap saja. Awalnya bisa kerjasama kredit konsumer seperti ini. Namun bisa lanjut ke kerjasama ke kredit korporasi,? kata Baiquni.

Baiquni menambahkan, per September ini kredit korporasi yang sudah dikucurkan sekitar Rp 33 triliun. Jumlah ini sudah melebihi target sekitar Rp 32 triliun. ?Pertumbuhannya dibanding tahun lalu sekitar 20 persen,? kata dia.

Kata dia, tahun depan, pihaknya masih akan menargetkan pertumbuhan yang hampir sama. Dia mengatakan, lonjakan harga minyak dunia tidak terlalu memengaruhi kredit korporasi secara keseluruhan. Selain karena debitur sektor manufaktur sudah mengonversi energinya, fokus kredit korporasi BNI akan lebih ke sektor yang ekspansif. ?Antara lain, perkebunan, mining-oil and gas, dan power plant,? kata Baiquni. Ketiga sektor tersebut, lanjut dia, dampaknya terhadap kenaikan harga minyak justru positif.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, RABU, 28 NOPEMBER 2007

Artikel Terkait