Petani Paser Dibekali Cara Kendalikan Hama Ramah Lingkungan

PASER. Upaya mendorong perkebunan ramah lingkungan terus digencarkan Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur (Disbun Kaltim) melalui UPTD Pengembangan Perlindungan Tanaman Perkebunan (P2TP). Salah satunya dengan menggelar Sosialisasi Pemanfaatan Agens Pengendali Hayati (APH) bagi Komoditi Perkebunan di Ruang Pertemuan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Long Ikis, Kabupaten Paser, Kamis (2/10/2025).
Kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida kimia sekaligus memperkuat komitmen menuju pertanian berkelanjutan.
Kepala UPTD P2TP, Ruspiansyah, secara resmi membuka kegiatan tersebut. Dalam arahannya, Ruspiansyah menyampaikan pentingnya pemahaman petani terhadap manfaat APH sebagai solusi ramah lingkungan dalam mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT).
“Penggunaan agens hayati bukan hanya melindungi tanaman dari hama, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem dan kesehatan petani. Kami berharap para peserta dapat menjadi agen perubahan di desanya masing-masing dengan mempraktikkan dan menularkan pengetahuan ini,” ujar Ruspiansyah.
Menurutnya, pertanian modern harus berorientasi pada keberlanjutan, bukan semata hasil produksi jangka pendek.
Peserta kegiatan berjumlah 30 orang, yang merupakan anggota koperasi dari Kecamatan Long Ikis dan Kecamatan Kuaro. Kehadiran mereka memperlihatkan antusiasme petani lokal untuk mencari alternatif pengendalian hama yang lebih sehat dan ramah lingkungan.
Hadir pula Sekretaris Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Paser, Siti Nurjanah, serta Penyuluh Pertanian Kecamatan Long Ikis, Arya, yang menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, penyuluh, dan petani dalam mengembangkan sistem perkebunan berdaya saing.
Sosialisasi ini menghadirkan narasumber Abdul Sahid, dosen Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman, yang membawakan materi “Peran APH dalam Pengendalian OPT Ramah Lingkungan” dan “Teknis Pengendalian OPT Ramah Lingkungan”.
Melalui paparan materi, peserta diajak memahami prinsip kerja agens hayati seperti jamur, bakteri, dan predator alami yang mampu menekan perkembangan hama tanpa mencemari lingkungan.
Diskusi interaktif memperkaya wawasan peserta, khususnya tentang cara aplikasi, pemeliharaan, hingga monitoring efektivitas APH di lapangan. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa petani dapat lebih percaya diri dalam memanfaatkan APH sebagai solusi efektif yang tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menjaga kelestarian lahan dan kesehatan keluarga mereka.
Ruspiansyah berharap, pasca sosialisasi ini, para petani benar-benar mengurangi penggunaan pestisida kimia dan beralih ke metode pengendalian yang lebih aman. Ia menekankan agar peserta menjadi pionir di komunitasnya, memberi contoh nyata kepada petani lain, serta menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa keberlanjutan perkebunan adalah investasi jangka panjang.
“Harapan kami, mindset petani berubah. Mereka tidak hanya berpikir tentang hasil panen saat ini, tetapi juga tentang bagaimana menjaga lingkungan agar tetap produktif untuk generasi berikutnya,” tegasnya.
Sosialisasi ini sekaligus menjadi bukti dalam memperkuat ketahanan perkebunan dan menghadirkan solusi inovatif yang berpihak pada petani dan lingkungan. (fif/disbun)
SUMBER : SEKRETARIAT