Petani Diminta Terus Berproduksi
22 Oktober 2008 Admin Website Artikel 338
Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kubar Achmad Sofyan mengatakan bahwa luas kebun karet di Kubar mencapai 33,920 hektare dan mampu memproduksi 13 ribu ton per tahunnya. Bisa dibayangkan jika harga per kilogramnya Rp 6 ribu maka akan menghasilkan Rp 6,1 miliar per bulan.

#img1# "Petani akan mengalami kerugian lebih besar apabila berhenti berproduksinya. Menghadapi merosotnya harga ini kami mengimbau petani karet untuk bersabar dengan terus menyadap karetnya. Karena getah karet bisa bertahan dalam waktu yang lama," kata Sofyan.

Merosotnya harga karet hingga Rp 3 ribu per kilogram masih memberikan pendapatan sebesar Rp 3 miliar per bulan. Apabila petani berhenti menyadap karet berate masyarakat Kubar kehilangan pendapatan Rp 3 miliar. Belum lagi karena tidak berproduksi akan terjadi kekosongan pasokan yang boleh jadi akan diisi pasokan dari tempat lain selain Kubar.

Sementara itu pohon karet yang tidak disadap selama tiga bulan hasilnya sama dengan pendapatan getah sehari di penyadapan berikutnya.

"Sebaikya petani tetap produksi dengan menyadap keret. Sekarang ini yang perlu dikurangi adalah penjualannya disesuaikan dengan kebutuhan sehari-hari," paparnya.

Bagaimana jika harga karet terus terpuruk? Berbagai kemungkinan bisa terjadi. Salah satunya menyetop produksi karet dan beralih pekerjaan lain. Karena pekerjaan yang selama ini ditekuni dirasa tak memberikan hasil baginya.

Petani karet berhitung jika harga karet dipatok Rp 5 ribu per kilogram akan mendapatkan sekitar Rp 800 ribu per bulan. Pendapatan ini bila diasumsikan 160 kilogram karet yang berhasil dipanen per satu hektare per bulan.

"Penghasilan panen getah karet 160 kilogram per bulan inipun jika tidak ada hujan. Kalau hujan terus akan menurun lagi hasil panennya," keluh petani karet Kampung Sri Mulyo, Sekolaq Darat bernama Ujoh dan Nawati di Kampung Sumber Sari, Barong Tongkok.

Pengaruh tak hanya dirasakan oleh masyarakat penghasil. Daya beli masyarakat pun menurun. Penurunan daya beli masyarakat itu dirasakan sejumlah penjual makanan dan dealer sepeda motor di Melak dan Barong Tongkok.

"Penghasil keret yang selama ini kredit motor akan kesulitan membayar angsuran. Keluhan-keluhan seperti ini sudah masuk ke kami," kata Kadistan Achmad Sofyan yang terus berupaya mencarikan solusi menghadapi anjloknya harga karet.

Pemilik warung makanan di Melak dan Barong Tongkok mengaku omset penjualannya menurun. "Biasanya ayam bisa habis 15 ekor sehari. Sekarang lima ekor aja ndak habis," kata Wawan yang berjualan makanan sari laut di Terminal Melak.

Pendapat senada diungkapkan Suparti yang membuka rumah makan di Jl A Yani Barong Tongkok. Dikatakannya bahwa pengunjung warungnya menurun drastis hingga 50 persen semenjak harga karet anjlok.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, RABU, 22 OKTOBER 2008

Artikel Terkait