RI Siapkan 'Tandingan' Forum RSPO
10 November 2010 Admin Website Artikel 256

Jakarta - Desakan agar Indonesia maupun Malaysia keluar dari forum Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) bentukan Eropa semakin kuat. Namun keputusan Indonesia soal ini akan sangat tergantung China dan India yang kini menjadi dua negara konsumen Crude Palm Oil (CPO) atau minyak sawit mentah terbesar dari Indonesia.

Menteri Pertanian Suswono mengatakan jika dua negara tadi menyetujui konsep Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) yang bisa menggantikan RSPO maka langkah Indonesia sangat bisa dilakukan untuk keluar dari RSPO.

Pasalnya kerap kali keputusan-keputusan RSPO yang mewadahi kepentingan Eropa sering mengada-ada dan cenderung mendikte Indonesia maupun Malaysia, selaku penguasa 85% pasar sawit dunia.

"Kita akan terus perjuangkan ISPO, yang ada di RSPO itu diadopsi ISPO. Konsumen terbesar China dan India," katanya dalam acara editor meeting di kantornya, Jakarta, Selasa (9/11/2010).

Bahkan kata Suswono, dirinya sudah membicarakan masalah ini dengan Menteri Pertanian China. Upaya ini semacam ini, lanjut dia, akan terus dilakukan termasuk menangkis serangan dari masyarakat Eropa dengan berencana akan menemui parlemen Eropa untuk terus menjelaskan posisi perkelapasawitan Indonesia.

"RSPO ini kadang-kadang membelenggu kita, banyak iuran sehingga membuat high cost," katanya.

Menurutnya, cara-cara yang dilakukan oleh forum RSPO terhadap posisi Indonesia dan Malaysia sebagai produsen sawit dunia tidak terlepas dari persaingan dagang. Hal ini karena komoditas pesaing sawit di Eropa tak mampu bersaing dengan sawit.

"Kita penguasa 85% bersama Malaysia, tapi kita ditentukan oleh Rotterdam, kota kecil itu," katanya.

Sebelumnya, salah satu produsen sawit terbesar Indonesia, Sinarmas terancam akan dikeluarkan dari forum RSPO karena dinilai tidak menerapkan sejumlah aturan. Pemerintah pun sudah menegaskan akan membela Sinarmas dari ancaman RSPO itu.

RSPO merupakan kumpulan daripara produsen, pedagang, dan perusahaan konsumen CPO yang dibentuk pada 2004 sebagai upaya untuk meningkatkan keberlangsungan pada  industry kelapa sawit.

 

DIKUTIP DARI DETIK, SELASA, 9 NOPEMBER 2010


Artikel Terkait