Mampu Serap Ribuan Pekerja
05 Juni 2008 Admin Website Artikel 425
Melalui revitalisasi pertanian dalam arti luas, Pemkab Kutim bertekad memberantas kemiskinan dan pengangguran, terutama melalui sektor pertanian tersebut. "Dari sekitar 46 perusahaan perkebunan di 18 kecamatan, sedikitnya memerlukan sekitar 6.500 tenaga kerja. Warga yang ingin bekerja di kebun, silakan mendaftar," kata Bupati Kutim Awang Faroek Ishak, belum lama ini.

Pemkab Kutim menargetkan perkebunan sawit sekitar 350.000 hektare dalam waktu 10 tahun sehingga sektor ini diyakini mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah banyak, yang secara tidak langsung akan mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan, baik masyarakat di Kutim maupun Kaltim.

Asisten Ekonomi Pembangunan Ismunandar, saat menyambut Anggota DPRD Enrekang menyatakan, hal tersebut mungkin sekali terjadi. Mengingat untuk merawat dan mengerjakan satu hektare lahan sawit, memerlukan setidaknya dua tenaga kerja.

"Jadi, tinggal kalikan dua. Misalnya, 40 ribu hektare dikalikan dua, maka jumlah tenaga kerja yang diperlukan mencapai 80 ribu orang. Terbukti, banyak tenaga kerja terserap berkat pertumbuhan perkebunan kelapa sawit," kata Ismunandar.

Selain itu, pemerintah mengimbau masyarakat agar tidak harus bekerja di perusahaan tambang, melainkan lebih ke sektor pertanian dalam arti luas dalam hal ini perkebunan.

Asisten Tata Praja Idrus Yunus menambahkan, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kutim, tak ada pilihan lain kecuali mengembangkan sektor perkebunan dan potensi sumber daya terbarukan, yang dikelola secara profesional dengan memanfaatkan keunggulan komparatif dan kompetitif.

Pemkab Kutim memiliki komitmen tinggi untuk menyukseskan program Gerdabangagri. Masyarakat diminta ikut melaksanakan dan menyukseskannya karena banyak mendapatkan keuntungan. Di antaranya, bantuan pupuk dan alat pertanian mendapatkan lahan melalui program redistribusi lahan pertanian 5 hektare dan banyak program lainnya untuk meningkatkan taraf hidup petani dan masyarakat Kutim.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, RABU, 4 JUNI 2008

Artikel Terkait