Maloy Bakal Jadi yang Terbesar di Asia Tenggara
01 Agustus 2013 Admin Website Berita Daerah 606
Maloy Bakal Jadi yang Terbesar di Asia Tenggara

BALIKPAPAN. Salah satu hal penting yang menjadi bahasan dalam Kaltim Summit II 2013 di Balikpapan, Selasa (30/7) adalah tentang peluang pengembangan kawasan industri Maloy di Kabupaten Kutai Timur menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

 

Sesi pertama Kaltim Summit dibuka dengan paparan Dr Sari Wahyuni dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang secara khusus membahas potensi pengembangan Maloy sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi masa depan Kaltim.

 

"Maloy diharapkan bisa menjadi kawasan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, that true. Tapi belum tentu, besar itu bisa sukses. Jadi harus benar-benar pintar mengelolanya," kata Sari Wahyuni, mengingatkan.

 

Dia mengambil contoh kawasan ekonomi yang dimiliki Korea Selatan,Incheon. Kawasan ini diapit oleh pelabuhan-pelabuhan besar di Jepang dan China, tetapi Incheon mampu menjadi kawasan ekonomi yang lebih prospektif.

 

Selain itu, dia pun menyarankan agar pengelola Maloy di daerah dapat belajar ke kawasan ekonomi khusus (KEK) yang sudah ada lebih dulu, di   Batam, Bintan dan Karimun. Menurutnya, ada banyak hal yang masih harus menjadi perhatian pemerintah di daerah untuk mewujudkan Maloy menjadi kawasan ekonomi khusus di daerah ini.

 

Maloy digadang-gadang akan menjadi KEK Maloy Trans Kalimantan Economic Zone (MTKETZ) dengan total areal  32.800 hektar.  Dengan strategic position  MTKEZ terletak di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II, kawasan Maloy dinilai sangat ideal menjadi perlintasan yang menghubungkan Laut Sulawesi melintasi Selat Makasar, Laut Flores dan Selat Lombok ke Samudera Hindia, dan sebaliknya. Pengembangan kawasan ini juga akan didukung dengan target sejuta hektare perkebunan kelapa sawit. Dengan luasan perkebunan kelapa sawit tersebut maka, Maloy potensial menjadi penghasil crude palm oil (CPO) terbesar di Indonesia.

 

"Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah factor driven (daya dorong), efisiensi dan inovasi untuk menciptakan daya dorong," imbuhnya.

 

Saran yang disampaikan antara lain pemerintah daerah perlu melakukan pendekatan klaster yang lebih bersifat bottom up daripada top down. Menyusun rantai suplai yang tepat dan industri pendukung yang terkait. Menyiapkan infrastruktur yang baik di dalam kawasan meliputi jalan, listrik dan  kebutuhan air bersih, serta soft infrastructure seperti sekolah dan layanan kesehatan.

 

"Pengelola Maloy juga perlu menghadirkan investor yang kredibel yang dapat mengembangkan efek berkelanjutan di sekitar kawasan. Kalau di Malaysia, kita mengenal Seven Samurai. Dan yang lebih penting lagi untuk sukses rencana besar ini adalah strong leadership, seperti terjadi di China. Mudah-mudahan strong leadership ini juga terjadi di Kaltim," ujarnya. (timhumas/adv).

SUMBER : HUMAS PROV. KALTIM

Artikel Terkait