Kecamatan Kongbeng dan Muara Wahau Pioner Sawit di Kutai Timur
14 Agustus 2014 Admin Website Berita Daerah 1480
Kecamatan Kongbeng dan Muara Wahau Pioner Sawit di Kutai Timur
SANGATTA. Keberadaan perkebunan kelapa sawit di kecamatan Kongbeng dan Muara Wahau yang menjadi ikon perkebunan  sawit di Kutim, memang sangat menjanjikan. Kemajuan kecamatan Kongbeng yang berbatasan dengan Kabupaten Berau ini juga maju pesat, beberapa tahun terkahir ini.

Perkembangan perekonomian di kedua kecamatan itu dinilai berbagai pihak maju dengan pesat. Bahkan sejumlah bank juga telah membuka cabang pembantu maupun kantor kas di kawasan itu, lantaran potensinya sangat menjajikan. Pasar tradisional yang dibuka di sana setiap pekan, menjadi ajang bagi karyawan perusahaan untuk berbelanja kebutuhan ekonomi selama sepekan.

Warga masyarakat yang dulunya enggan berkebun, kini justru mencari lahan. Namun karena sebagian besar lahan sudah ditanami kebun sawit dan tanaman pangan lainnya, sehingga saat ini sangat sulit mencari lahan tidur di kawasan Kongbeng dan Muara Wahau.

Salah satu bukti nyata peredaran uang di masayarakat setiap bulannya mencapai puluhan miliar rupiah. Sebagai contoh, Bankaltim dan BRI di SP IV Kongbeng yang juga berdekatan dengan Muara Wahau setiap bulannya mampu mengakomodir uang miliran rupiah.

"Setiap bulan transaksi peredaran uang di kedua bank itu mencapai sekitar Rp 10 miliar. Belum lagi di pasar dan toko-toko kelontong milik masyarakat," kata Camat Kongbeng Fahmi Anwar belum lama ini.

Hal yang sama juga diutarakan H Abdul Halim Johar salah seorang unsur manajemen PT Swakarsa Sinarsentosa.

Setidaknya menurut Fahmi, panggilan akrab Camat Kongbeng ini, uang yang beredar di tengah masyarakat mencapai lebih Rp 10 miliar lebih.  Menurut Abdul Halim Johar, yang juga mantan Kadisbun Kutim ini, menambahkan di Swakarsa setiap bulannya memberikan gaji kepada karyawan tidak kurang dari Rp 5 miliar. Dana itu belum termasuk pembayaran kontraktor atau perusahaan rekanan yang merupakan mitra perusahaan.

"Itu baru dari perusahaan yang kami kelola selama ini. Belum lagi perusahaan perkebunan lain yang juga memiliki karyawan banyak, sehingga uang yang beredar di masyarakat lebih dari rp 10 miliar setiap bulannya," kata Dudung, panggilan akrab Abdul Halim Johar.

Dengan adanya perusahaan perkebunan di Muara Wahau, pihaknya mengajak kepada masyarakat untuk teribat langsung dalam pembangunan di daerahnya. Terlebih dengan adanya jembatan yang menghubungkan Muara Wahau Lama dengan kawasan pemukiman transmigrasi dan kecamatan Kongbeng, memperlancar akses transportasi kedua kecamatan dan sebaliknya.

Roda perekonomian masyarakat semakin berkembang pesat. Penginapan juga semakin bertambah, demikian usaha yang dikakukan masyarakat maupun koperasi semakin berkembang pesat. Menurut Camat Muara Wahau Yusriansyah, pertumbuhan dan pembangunan ekonomi masyarakat di wilayahnya semakin maju. Dengan adanya industry perkebunan kelapa sawit, masyarakat menjadi berkembang dan terbuka untuk mengembangkan usahanya yang berkaitan dengan industry sawit. Salah satu contohnya transportasi pengangkutan tandan buah segar maupun lainnya.

Pertanian juga semakin maju. Sebab, karyawan di perusahaan perkebunan kelapa sawit membutuhkan berbagai kebutuhan pangan, sehingga sayur dan kebutuhan lain bisa dipasok petani lokal. Hal yang sama juga terlihat di kecamatan Kongbeng. Tak heran, jika pasar tradisional di kedua kecamatan ini semakin ramai, terutama saat karyawan meneri gaji.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, RABU, 13 AGUSTUS 2014


Artikel Terkait