Jamur Akar Putih Ancam Produktivitas Karet
11 April 2014 Admin Website Berita Kedinasan 360
Jamur Akar Putih Ancam Produktivitas Karet

SAMARINDA. Tanaman karet (Hevea brasiliensis) merupakan komoditi unggulan perkebunan di Kaltim, karena selain memiliki prospek yang cerah bagi petani karet juga memiliki nilai ekonomi yang penting sebagai sumber devisa negara non migas. Namun produktivitas tanaman karet masih rendah akibat adanya serangan hama dan penyakit pada tanaman ini, salah satunya adalah serangan penyakit jamur akar putih (JAP).

Kepala Dinas Perkebunan Kaltim, Hj. Etnawati mengatakan jamur akar putih merupakan penyakit penting pada tanaman karet, karena penyakit ini menyebabkan kematian  tanaman dalam intensitas tinggi terutama pada tanaman yang berumur 2 hingga 6 tahun. Untuk itu, petani karet di Kaltim diimbau mewaspadai serangan penyakit ini.

"Penyakit JAP yang disebabkan oleh jamur "Rigidoporus microporus" ini mengakibatkan kehilangan hasil produksi tanaman karet mencapai 3 - 5 persen pada perkebunan besar. Sementara pada perkebunan rakyat mencapai 5 - 15 persen. Selain itu, infeksi yang diakibatkan patogen ini secara ekonomis memerlukan biaya yang sangat tinggi dalam pengendaliannya. Tentunya ini sangat merugikan petani karet," beber Hj. Etnawati.

Diterangkan, gejala serangan JAP pada tanaman karet diantaranya adalah tajuk daun berwarna pucat, akhirnya kering dan gugur, sehingga terlihat tajuk tanaman hanya tinggal rantingnya saja. Adakalanya tanaman sakit membentuk daun-daun muda atau bunga dan buah lebih awal dari waktu yang seharusnya. Selain itu, apabila perakaran dibuka, terlihat permukaan akar ditutupi miselium jamur atau rhizomorf berwarna putih yang menempel kuat pada akar dan sulit dilepas. Akar yang terinfeksi akhirnya membusuk dan berwarna coklat.

"Jamur ini menyerang tanaman pada segala stadium pertumbuhan, mulai dari pembibitan, tanaman belum menghasilkan (TBM) bahkan sampai tanaman menghasilkan (TM). Bagian yang terserang adalah bagian tanaman yang berada dibawah permukaan tanah, baik akar tunggal, akar cabang, akar rambut ataupun leher akar, akibatnya pohon mudah tumbang," lanjutnya.

Sementara itu, menurut Kepala Bidang Perlindungan Disbun Kaltim, Henny Herdiyanto, tahun 2013 diperkirakan kerugian finansial akibat kematian tanaman karet oleh JAP mencapai 371 juta rupiah sehingga mengakibatkan penurunan produktivitas.

"Di beberapa areal perkebunan karet rakyat di Kaltim yang sudah terserang mencapai 937,45 hektar, diantaranya Samarinda, Balikpapan, Kutai Kartanegara, Kutai Barat, Kutai Timur, Paser dan Penajam Paser Utara," jelasnya.

Henny menambahkan, pihaknya terus berupaya melakukan sosialisasi pengenalan dan pencegahan terhadap penyakit JAP ini agar tidak menjadi wabah yang merugikan bagi petani karet. Selain sosialisasi, petugas penyuluh di lapangan juga menyebarkan leaflet berisi informasi dan penanganan penyakit ini. (rey/disbun)

SUMBER : BIDANG PERLINDUNGAN

Keterangan Gambar : Produk turunan komoditi karet dalam bentuk sit.


Artikel Terkait