Jadikan Kutim Pusat Agroindustri 2020
20 Oktober 2015 Admin Website Berita Daerah 293
Jadikan Kutim Pusat Agroindustri 2020SANGATTA. Meskipun Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memiliki sumber daya alam (SDA) yang besar dari sektor pertambangan, minyak, gas dan batu bara. Namun Kutim lebih memilih mengembangkan sektor pertanian dan perkebunan sebagai leading sektor pembangunan untuk menyokong masa depan. Hal tersebut sangat mungkin terjadi, sebab kabupaten yang baru genap berusia 16 tahun ini  memiliki potensi lahan pertanian 1,3 juta hektar.

Ditambah melalui kebijakan Bupati Ardiansyah Sulaiman, daerah ini terus berupaya mengembangkan pembangunan sektor pertanian dan perkebunan sesuai dengan visi Kutim. Demi mewujudkan Kutim sebagai pusat agrobisnis dan agroindustri di Kalimantan Timur (Kaltim) tahun 2020 mendatang.

"Sebagai upaya mewujudkan Kutim sebagai pusat pertumbuhan agrobisnis dan agro industri, sektor pertanian khususnya produksi padi, Pemkab telah banyak melakukan upaya untuk meningkatkan hasil produksi dan luasan lahan garapan. Sebagai contoh dari produksi 33.621 ton di 2011 menjadi 43.223 ton pada tahun 2014," kata Bupati Ardiansyah Sulaiman didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Syarifuddin Ginting, belum lama ini.

Selanjutnya luas lahan tanam padi juga terus mengalami peningkatan luasan. Dari 10.649 hektar di 2011 menjadi 12.845,25 hektar pada 2014. Sedangkan untuk pola peningkatan produktivitas tanaman palawija dan holtikultura sudah cukup baik. Luas lahan palawija 1.552 hektar, holtikultura 5.172 hektar di tahun 2011. Tahun 2014 lahan palawija turun menjadi 1.408 hektar, holtikultura 88.194 hektar di 2014.

Sebagai akibatnya, produksi palawija terus mengalami penurunan dari 7.591 ton di tahun 2011 menjadi 6.870 ton pada 2014. Sedangkan luas lahan holtikultura yang meningkat tidak dikuti peningkatan produksi. Tahun 2011, 30.212.ton dan 29.386 ton di 2014. Adanya inkonsistensi antara lahan dan produksi mengindikasikan bahwa masih pentingnya upaya kerja keras peningkatan pertanian non padi demi mewujudkan penyediaan pangan yang berkesinambungan.

Sementara di sektor perkebunan, sambung Bupati, kelapa sawit merupakan produk unggulan yang terus mengalami peningkatan produksi dari 20.293,56 kilogram per hektar  di 2012 menjadi 21.005,95 kilogram per hektar. Pertumbuhan industri kelapa sawit ini diikuti pula dengan perkembangan industri hasil perkebunan, yang ditandai dengan hadirnya 19 pabrik CPO (Crude Palm Oil) di beberapa kecamatan di Kutim. Hingga tahun 2014 telah terbangun 20  unit pabrik CPO dengan total produksi terpasang 1.045 ton per jam dengan kapasitas terpakai 985 ton per jam.

"Bisa dibayangkan betapa besarnya multiplier efek dari kegiatan industri perkebunan ini untuk menggerakan perekonomian Kutim di masa mendatang. Peningkatan sarana dan prasarana seperti air bersih, listrik, jalan, telekomunikasi serta penegakan hukum yang tegas tentu menjadi daya tarik investor masuk menanamkan modalnya di Kutim," sebut Ardiansyah Sulaiman. (hms4/lhl)

DIKUTIP DARI KALTIM POST, SENIN, 19 OKTOBER 2015

Artikel Terkait