Industri Pengolahan Karet Sangat Potensial
09 Mei 2011 Admin Website Artikel 288

SAMARINDA. Petani karet di Kaltim nampak mulai tertarik memberikan nilai tambah dari hasil pertanian mereka. Jika sebelumnya hanya menjual hasil panen dalam bentuk bahan mentah lump mangkok atau ojol, kini mengincar keuntungan lebih dalam bentuk industri kecil produk olahan karet setengah jadi, yakni brown creep.

"Pengolahan karet dalam bentuk brown creep ini dimaksukdkan untuk optimalisasi nilai tambah dari hasil pertanian karet petani. Selain itu, pengembangan industri olahan di pedesaan, secara langsung juga memberi dampak baik terhadap upaya menekan angka pengangguran," kata Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kaltim, Ichwansyah yang mendapat tugas mengkoordinasikan Seksi Karya Wirausaha di ajang Penas XIII Petani dan Nelayan 2011.

Industri kecil pengolahan karet menjadi brown creep ini akan menjadi salah satu wakil Kaltim yang tampil dalam ajang Penas XIII. Pengembangan pertanian karet di Kaltim, diakui Ichwansyah sangat besar dan potensi peningkatan nilai tambah dari hasil karet ini juga masih terbuka luas.

Industri di pedesaan ini lanjut dia, akan lebih memiliki kekuatan, jika masyarakat setempat bisa bekerja sama membangun kekuatan ekonomi di sekitar mereka dalam bentuk kelompok tani maupun koperasi.

Salah satu langkah yang bisa disepakati adalah kesediaan petani untuk menjual hasil pertanian ke industri yang mereka kembangkan secara bersama-sama, sehingga nilia tambah yang diinginkan benar-benar terwujud..

"Bila industri ini berjalan baik, tentu secara langsung berpengaruh terhadap tingkat pendapatan petani. Selain itu, industri pedesaan ini juga akan mendorong tumbuhnya perekonomian rakyat di sekitar desa tersebut," imbuh Ichwansyah, didampingi Sekretaris Disnakertrans Kaltim, Putut Pranomo.

Industri pengolahan karet menjadi brown creep ini akan menjadi satu dari tiga wakil Kaltim yang tampil di Penas XIII di Tenggarong. Dua wakil Kaltim lainnya adalah budidaya padi dan udang galah di Kecamatan Anggana dan produksi bibit lada sehat dari Kecamatan Samboja.

Sementara itu, Edi Santoso, sang pemilik ide pengolahan karet menjadi brown creep mengungkapkan, bahwa potensi hasil panen petani di kawasan Marangkayu saja sudah demikian besar, sekitar 300 ton perbulan atau sekitar 10 ton lebih perhari.

"Sedangkan kapasitas mesin kami hanya 1 ton perhari. Industri ini saya pikir masih akan sangat potensial di masa-masa yang akan datang," kata Edi Santoso.

Industri ini dilengkapi satu mesin circle (pemotong lump) dan dua unit mesin giling creep (mangel). Pada sekitar lokasi ini juga disiapkan tiga lantai untuk pengasapan creep menjadi brown creep dan hingga dinyatakan layak jual.

Namun demikian, Edi Santoso mengakui justru ketersediaan bahan mentah (lump) seringkali menjadi kendala. Penyebabnya, permainan harga beli lump oleh para pengepul/tengkulak, sehingga banyak petani menjual hasil panen ke para pengepul tersebut.

"Kami memerlukan pendampingan dan pembinaan menuju peningkatan kualitas hasil panen petani. Kami juga memerlukan informasi harga pasti secara terus menerus dari instansi tehnis terkait," kata Edi Santoso.

Dia juga berharap agar pemerintah memberi perhatian lebih serius untuk pengembangan industri pengolahan karet. Solusi yang diinginkan, salah satunya adalah ketersediaan pabrik penampung lump dan dukungan modal kerja agar dapat menjadi induk dari hasil panen petani setiap hari.

SUMBER : HUMAS PROV. KALTIM

Artikel Terkait