Ekspor CPO Makin Deras
01 Oktober 2009 Admin Website Artikel 310
"Permintaan dari India akan semakin deras, jumlahnya relatif meningkat," ujar Dewan Pembina Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Derom Bangun, kemarin (30/9). Selain potensi besar dari India, pembelian dari Tiongkok juga masih menjadi harapan. Selain karena rendahnya bea keluar, permintaan dari kedua negara itu juga meningkat menjelang tahun baru.

Seperti tertuang Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 49/M-DAG/PER/9/2009 tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor Atas Barang Ekspor Yang Dikenakan Bea Keluar disebutkan, harga rata-rata patokan ekspor CPO di bulan Oktober sebesar USD 691 per ton, sehingga bea keluarnya nol persen. ?Pembeli dari India dan Tiongkok akan lebih banyak membeli sawit dari Indonesia,? terangnya.

Volume ekspor CPO sendiri selama Agustus lalu melonjak menjadi 1,6 juta ton dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya 1,1 juta ton. Faktor pemicu kenaikan volume ekspor selama Agustus adalah penetapan bea keluar nol persen, sedangkan bea keluar di bulan sebelumnya (Juni) masih tiga persen. "Ekspor CPO di bulan Oktober akan tetap tinggi seperti yang terjadi sejak Agustus," tukasnya.

Derom mengatakan, ekspor minyak kelapa sawit ke India akan naik antara 5-10 persen tahun ini. Selain karena bea keluar, ini juga dampak penandatanganan kesepakatan perdagangan bebas antara negara-negara ASEAN dengan India (AIFTA). "Sekarang ekspor kita 2,5 juta ton per tahun ke India," terangnya.

India, menurut Derom, memerlukan sekitar 12 juta ton minyak makan (minyak kedelai dan minyak kelapa sawit), karena tingginya konsumsi domestik di negara tersebut. Sementara, produksi domestik di India hanya sekitar 5-6 juta ton. ?India sangat memperhatikan kebutuhan dan daya beli masyarakatnya,? kata dia.

Dalam perjanjian kerjasama tersebut, India akan menurunkan Bea Masuk (BM) CPO (Crude Palm Oil) dan RPO (Refined Palm Oil) ke tingkat maksimum dari saat ini 80 persen dan 90 persen menjadi 37,5 persen dan 45 persen pada 2019. Karena itu, produsen CPO Indonesia berpotensi menambah pasokan ekspor bagi kebutuhan India sebanyak 250 ribu ton. "India masih defisit CPO 6 juta ton," tuturnya.

Keunggulan lainnya, menurut Derom, pasar di India lebih banyak membutuhkan impor dalam bentuk mentah daripada membeli minyak goreng langsung. Sebab, mereka punya pabrik sendiri. Karena itu, peluang Indonesia lebih besar daripada Malaysia yang banyak memproduksi minyak goreng.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, KAMIS, 1 OKTOBER 2009

Artikel Terkait