Dana Bea Keluar Diminta Dipakai untuk Bantu Petani
10 Januari 2012 Admin Website Artikel 296

JAKARTA. Proyeksi kenaikan permintaan berkat pertumbuhan penduduk, yang membuat pasar minyak kelapa sawit global kian prospektif dan sangat menggiurkan investor. Kementerian Pertanian mencatat realisasi investasi perkebunan tahun 2011 me ncapai Rp 51,8 triliun.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Gamal Naser, mengungkapkan hal ini saat memaparkan Evaluasi Tahun 2011 dan Rencana Kerja Tahun 2012 di Jakarta, Senin (9/1/2012).

Dia didampingi Sekretaris Direktorat Jenderal Perkebunan Mukti Sardjono, Direktur Tanaman Tahunan, Rismansyah Danasaputra, serta Direktur Perlindungan Perkebunan Nurnowo Paridjo, dan Direktur Pascapanen dan Pembinaan Usaha Herdradjat Natawidjaya.  

"Pembangunan kebun kelapa sawit dan pabrik pengolahan kelapa sawit, mendominasi realisasi investasi perkebunan tahun 2011. Nilai ini naik dari investasi tahun 2010 yang terwujud Rp 48,7 triliun," ujar Gamal.

Indonesia saat ini memiliki perkebunan kelapa sawit seluas 8,9 juta hektar, dan memproduksi 22,5 juta ton minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO).

Kementerian Pertanian mencatat, 19,3 juta ton CPO diekspor yang menghasilkan devisa 19 miliar dollar AS (Rp 171 triliun).

Rismansyah menambahkan, perizinan perkebunan kelapa sawit ada di kepala daerah sesuai Undang-Undang Nomor 18/2004 tentang Perkebunan dan kewenangan Kementerian Pertanian hanya memberi rekomendasi teknis. Banyak pemegang izin lama yang baru mewujudkan rencana investasi mereka tahun 2011.  

"Kita bisa melihat dari permintaan kecambah kelapa sawit yang pada Januari sampai Juni 2011 kosong, pada Juli sampai sekarang meningkat drastis. Untuk tahun 2012 saja, pesanan benih unggul mencapai 214 juta kecambah naik dari 150 juta kecambah tahun 2011," kata Rismansyah.

Kinerja ekspor sedikitnya 10 komoditas tahun 2011 meningkat tajam dari tahun 2010. Harga komoditas yang relatif tinggi, membuat ekspor mencapai 35,7 miliar dollar AS (Rp 321,3 triliun), naik dari 27,3 miliar dollar AS (Rp 245,7 triliun) tahun 2010.

Kondisi ini cukup menggembirakan, karena dari sisi volume, ekspor komoditas tahun 2011 hanya 24,5 juta ton, turun dari 25,6 juta ton tahun 2010. Komoditas penyumbang devisa ekspor tertinggi kedua setelah kelapa sawit adalah karet alam senilai 12,4 miliar dollar AS (Rp 111,6 triliun) dengan volume 2,6 juta ton.  

"Untuk tahun 2012 kami optimistis harga masih akan baik. Kami menargetkan nilai ekspor bisa mencapai 45 miliar dollar AS (Rp 405 triliun),: ujar Mukti.

Dana bea keluar

Gamal juga mengungkapkan, Menteri Pertanian Suswono sudah menyurati Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo, agar mengizinkan pemanfaatan dana Bea Keluar (BK) CPO membantu petani. Petani memiliki sedikitnya 3,5 juta hektar kebun kelapa sawit, dengan 1,5 juta hektar di antaranya harus diremajakan.

Secara terpisah, Ketua Bidang Penelitian dan Lingkungan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Daud Dharsono, mengapresiasi hal ini. Menurut Daud, pemerintah mengumpulkan dana BK 10 tahun terakhir, namun belum pernah memakai langsung untuk kepentingan kelapa sawit.

Menurut Daud, pemerintah seharusnya membuat terobosan dalam sistem keuangan negara, agar dana tersebut dapat lebih mudah dikeluarkan dari kas negara untuk keperluan industri kelapa sawit.

Pengalaman dalam krisis ekonomi selama ini, industri kelapa sawit telah terbukti berdaya tahan tinggi, sehingga menjadi salah satu solusi pengembangan perekonomian negara, penciptaan kesempatan kerja, pengentasan kemiskinan, dan memberikan kesejahteraan lebih baik bagi jutaan penduduk Indonesia.

Daud menyarankan, dana BK diarahkan untuk beberapa hal penting yang berkait langsung dengan perkembangan kelapa sawit nasional. Pertama, riset pemurnian benih unggul demi memperoleh bibit kelapa sawit berproduktivitas tinggi dan riset produk hilir seperti oleokimia, pharmaceutical, energi, dan sebagainya.

Kedua, kampanye positif di luar negeri mengenai produk lestari dan manfaat kelapa sawit terhadap perekonomian nasional. Ketiga, membantu dana peremajaan tanaman perkebunan rakyat yang mencakup jutaan kepala keluarga sehingga produktivitas kebun meningkat dan menyejahterakan rakyat.

Keempat, pembangunan infrastruktur yang berhubungan langsung dengan industri kelapa sawit seperti pelabuhan ekspor dan pendukung, kawasan industri terpadu, perbaikan jalan negara dan pembangunan jalur kereta api untuk distribusi produk, dan penyediaan listrik bagi industri hilir kelapa sawit .  

Pemerintah juga perlu memberi insentif kepada industri kelapa sawit, dengan tidak menambah beban lain yang menyebabkan pelaku industri dikenakan pungutan atau pajak berkali-kali.

"Hal ini pada akhirnya juga membebani petani. Para pelaku perkebunan kelapa sawit merupakan salah satu pahlawan perekonomian Indonesia," ujar Daud.

DIKUTIP DARI KOMPAS, SENIN, 9 JANUARI 2012


Artikel Terkait