Daerah Lumbung Kakao Optimistis RI Jadi Produsen Terbesar di Dunia
12 November 2010 Admin Website Artikel 287

Jakarta - Indonesia sangat berpeluang menjadi produsen kakao terbesar di dunia dalam waktu 3 tahun ke depan. Program gerakan nasional (gernas) kakao akan menentukan peningkatan produksi kakao di sentra-sentra kakao seperti Sulawesi Barat (Sulbar) dan wilayah lainnya.

"Kita berharap 2 sampai 3 tahun ke depan Indonesia bisa menjadi penghasil coklat nomor satu di dunia," kata Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh di sela-sela acara Expo Nasional Inovasi Perkebunan (INEP) 2010 di JCC, Jakarta, Jumat (12/11/2010)

Anwar mengatakan gernas kakao sampai saat ini mendorong upaya peningkatan produksi kakao Indonesia. Melalui peremajaan pohon kakao dan intensifikasi produksi kakao, sangat mungkin Indonesia menjadi produsen kakao terbesar.

"Di Sulbar saja kita ada lahan kakao 156.000 hektar, kita ada lahan sampai 200.000 hektar," katanya.

Ia mengatakan anggaran gernas kakao tahun 2011 mencapai Rp 250 miliar. Sementara alokasi anggaran serupa untuk wilayah Sulbar melalui APBD setidaknya akan digelontorkan sebanyak Rp 30 miliar.

Menurut Anwar dengan kemampuan produksi kakao Sulbar saat ini 100.000-120.000 ton per tahun, maka dengan adanya gernas kakao dan perluasan lahan kakao produksi kakao Sulbar akan terus meningkat. Hal ini tentunya akan mendorong pendapatan petani kakao di Sulbar.

"Kakao itu beda dengan sawit, kakao itu 100% milik petani rakyat. Sebanyak 60% rakyat Sulbar menggantungkan hidupnya dari kakao," katanya.

Menurutnya harga kakao saat ini terus naik sehingga mengguntungkan para petani. Saat ini saja harga kakao di tingkat petani telah mencapai Rp 25.000 per kg, meski pada saat awal penerapan Bea Keluar Kakao April 2010 lalu harganya sempat anjlok hanya Rp 18.000 per kg.

"Harga coklat itu tak pernah turun, harga rata-ratanya masih di atas Rp 20.000 per kg," katanya.

Saat ini Indonesia tercatat sebagai negara produsen biji kakao ketiga di dunia. Menurut data International Cocoa Organization (ICCO) 2009.

Posisi pertama Pantai Gading 1,22 juta ton per tahun atau memegang pangsa pasar 38,7%. Posisi kedua Ghana dengan produksi 680.000 ton atau 21,6%, dan Indonesia 540.000 ton atau 16,2%.

DIKUTIP DARI DETIK, JUMAT, 12 NOPEMBER 2010


Artikel Terkait