Biji Jarak Untuk Pengganti BBM
03 Maret 2011 Admin Website Artikel 272
SANGATTA - Penggunaan minyak dari biji jarak sebagai pengganti bahan bakar minyak (BBM) harus digalakkan. Paling tidak, hal itu bisa mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap BBM  yang kian hari kian langka. Phanya saja, hingga sekarang penggunaan minyak jarak belum disukai karena masyarakat masih terbiasa dengan minyak tanah, solar atau premium.

    “Kalau terus menerus tergantung dengan minyak tanah, bensin atau solar lambat laun persediaan BBM dunia akan habis, kalau sudah begini alternative lain yakni penggunaan minyak jarak harus dilakukan karena biji jarak dapat diperoleh setiap saat,” terang Sri Rahayu, PPL Dinas Perkebunan di hadapan kaum wanita di Desa Kabo Jaya Dewa Swarga Bara, belum lama ini.

    Pengenalan minyak jarak yang dioleh dari biji jarak itu, dilakukan Sri untuk memberikan pemahaman masyarakat akan manfaat jarak. “Demo pengolahan biji jarak menjadi minyak untuk menerapkan teknologi serapan sebagai pengganti bahan bakar minyak tanah yang telah semakin langka.,” terangnya.
Lebih lanjut Sri Rahayu menjelaskan, peralihan bahan bakar minyak tanah ke minyak jarak sangat dimungkinkan untuk di Sangatta. “Jarak merupakan salah satu program pemerintah untuk menyejahterakan masyarakat, terutama dalam mencari atau penggunaan bahan baker alternative yang kian langka,” terangnya.

Memanfaatkan tanaman jarak sebagai sumber energi akan mengurangi  kebutuhan  minyak tanah yang mendapatkannya sudah semakin susah. Kepada kaum hawa di Kabo Jaya, Sri mengungkapkan jarak selain dapat digunakan untuk bahan bakar pengganti minyak tanah, bagian daun dan batangnya   bermanfaat untuk  sariawan serta luka.

Hasil demo yang berlangsung santai, untuk memasak  2 liter air dengan minyak jarak waktu yang dibutuhkan hanya 8 menit, sedangkan biji jarak yang digunakan sebanyak 2 ons. “Proses pembuatannya sangat mudah hanya diulek saja air minyaknya dimasukan ke kapas, sudah jadi minyak jarak,” ungkap Sri seraya memperlihatkan minyak jarak olahannya.
 
DIKUTIP DARI KALTIM POST, KAMIS, 3 MARET 2011

Artikel Terkait