Bea keluar CPO naik, Petani makin terpuruk
26 Mei 2012 Admin Website Artikel 225
JAKARTA. Pemerintah melalui peraturan menteri keuangan (PMK) nomor 75 tahun 2012 telah menetapkan bea keluar minyak sawit (crude palm oil/CPO) dan turunannya naik menjadi maksimal 22,5 persen setelah sebelumnya 19,5 persen. 

Dengan PMK tersebut, para petani mengaku keberatan dan makin terpojok. Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Asmar Arsyad mengatakan bahwa para petani akan semakin terbebani dengan adanya kenaikan ini. "Bagi kami petani kenaikan ini tetap jadi masalah," ujar Asmar ketika dihubungi merdeka.com Jumat (25/5).

Dia menjelaskan setiap kenaikan 1 persen bea keluar maka akan menggerus harga tandan buah segar (TBS) sebesar USD 14 sen per ton atau sekitar Rp 200- Rp 400 per ton.

Menurut Asmar, para petani sebetulnya setuju dengan adanya pajak untuk kontribusi pembangunan. Namun, ia juga meminta agar dana bea keluar yang dipungut pemerintah itu bisa dikembalikan untuk kebaikan petani. "Kami meminta bea keluar itu dikembalikan ke petani jadi bisa untuk sertifikasi lahan, peremajaan kebun, perbaikan infrastruktur desa dan penguatan lembaga petani," papar Asmar.

Saat ini saja, kata dia, dari 3,6 juta hektar kebun sawit di Indonesia sudah ada 1,5 juta hektar yang merupakan kebun-kebun tua yang perlu peremajaan.

Di samping itu, sejak 6 bulan lalu, tambah Asmar,  pihaknya sudah mengirimkan surat ke Menteri Keuangan untuk meminta dana Rp 31,8 triliun dari bea keluar untuk membantu petani sawit dan peremajaan lahan. "Tapi sampai sekarang belum respon dari pemerintah," kata Asmar.

Dalam PMK yang akan berlaku mulai 1 Juni itu, produk CPO dan turunannya dikenakan bea keluar dengan tarif bervariasi. Yaitu 7,5 hingga 22,5 persen.

Padahal, sebelumnya bea keluar CPO hanya ditetapkan dalam satu tarif saja. Pada April lalu bea keluar CPO ditetapkan sebesar 18,5 persen dan naik pada bulan Mei menjadi 19,5 persen.

DIKUTIP DARI MERDEKA, JUMAT, 25 MEI 2012


Artikel Terkait