Awalnya Enggan Berkebun, Sekarang Berburu Lahan
17 Maret 2014 Admin Website Berita Daerah 363
Awalnya Enggan Berkebun, Sekarang Berburu Lahan

SANGATTA. Keberadaan perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Kongbeng dan Muara Wahau, telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Dua kecamatan ini memang merupakan daerah embrio pertumbuhan dan pengembangan perkebunan kelapa sawit di Kutim. Tak heran, Kongbeng yang berbatasan dengan Kabupaten Berau ini mengalami kemajuan yang cukup pesat.

Perkembangan perekonomian di Kongbeng dan Muara Wahau, diakui berbagai pihak sangat signifikan. Oleh karena itulah, sejumlah bank membuka kantor cabang pembantu, mengingat potensi yang dimiliki sangat menjanjikan. Pasar tradisional yang dibuka disana setiap pekan, menjadi tempat bagi karyawan perusahaan untuk berbelanja kebutuhan selama sepekan.

Masyarakat setempat yang awalnya enggan berkebun, sekarang justru mencari lahan. Khususnya untuk mengembangkan usaha perkebunan kelapa sawit yang sudah bisa dirasakan hasilnya. Namun karena sebagian besar lahan sudah ditanami kebun sawit dan tanaman pangan lainnya, sehingga saat ini agak sulit mencari lahan tidur di Kongbeng dan Muara Wahau.

Sebagian besar masyarakat dua kecamatan itu, bergantung sepenuhnya pada perkebunan kelapa sawit. Hasil yang dirasakan selama ini sudah terbukti nyata. Seorang warga yang memiliki kebun sawit seluas 10 hektare, mampu menyekolahkan anaknya di Jawa sampai perguruan tinggi.

Bukti nyata lainnya adalah peredaran uang dimasyarakat setiap bulannya mencapai puluhan miliar rupiah. Sebagai contoh, Bank Pembangunan Daerah (BPD/Bankaltim) dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) di satuan permukiman (SP) IV Kongbeng yang berdekatan dengan Muara Wahau setiap bulannya mampu menampung uang puluhan miliar.

"Setiap bulan peredaran uang di kedua bank itu mencapai sekitar Rp. 10 miliar lebih. Belum lagi di pasar dan toko-toko kelontong milik masyarakat," kata H. Abdul Halim Johar, salah seorang unsur manajemen  PT. Swakarsa Sinarsentosa.

Setidaknya menurut mantan Kepala Dinas Perkebunan (DISBUN) Kutim ini, uang yang beredar di tengah masyarakat mencapai Rp. 10 miliar lebih. Kemudian dia memberikan contoh, PT. Swakarsa setiap bulan memberikan gaji kepada karyawan tidak kurang dari Rp. 5 miliar. Dana itu belum termasuk pembayaran kontraktor atau perusahaan rekanan yang merupakan mitra perusahaan.

"Itu baru dari perusahaan yang kami kelola. Belum lagi perusahaan perkebunan lain yang juga memiliki karyawan ribuan orang, sehingga uang yang beredar dimasyarakat lebih dari Rp. 10 miliar setiap bulannya," kata Dudung - panggilan akrab Abdul Halim Johar.

Bukti lainnya adalah kegiatan jasa penyebrangan di Desa Dabeg yang berdekatan dengan PT. Swakarsa Sinarsnetosa. Setiap hari mereka melayani masyarkat dan pekerja untuk menyebrang menggunakan kapal kecil.

"Pengadaan ponton penyebrangan untuk kendaraan roda empat dibantu perusahaan. Karena kami ingin masyarakat memiliki usaha tetap. Meskipun semuanya dibantu, namun pengelolaannya diserahkan penuh kepada masyarakat setempat," lanjut Dudung.

Selain ponton penyebrangan kendaraan roda empat, ada pula ponton untuk kendaraan roda dua. Lokasinya persis di dekat perusahaan  Swakarsa. Setiap bulan setelah gajian, suasana di penyebrangan ini selalu ramai karena para karyawan banyak yang pergi ke pasar. "Aktivitas masyarakat dan karyawan cukup tinggi pada saat itu," tambahnya.

Pernyataan senada juga pernah diungkapkan Camat Kongbeng Fahmi Anwar. Menurutnya, peredaran uang di wilayahnya maupun di Kecamatan Muara Wahau dan Telen cukup besar." Setiap harinya bisa mencapai sekitar Rp. 10 miliar," katanya.

Bukan hanya itu. Geliat usaha masyarakat di Muara Wahau dan Kongbeng cukup signifikan. Setelah pertumbuhan kelapa sawit membaik, banyak usaha masyarakat yang berkembang. Termasuk koperasi masyarakat yang diberdayakan perusahaan berkembang pesat.

Menurut Camat Fahmi, pihaknya merasa bangga, lantaran berbagai jenis usaha termasuk pasar tradisional semakin berkembang. "Ini menunjukkan bahwa keberadaan perkebunan kelapa sawit memberikan dampak positif terhadap kemajuan ekonomi dan usaha ditengah masyarakat," ujarnya.

Dikatakan, pihak manajemen perusahaan juga memberikan peluang usaha kepada masyarakat melalui koperasi. Misalnya angkutan tandan buah segar (TBS) maupun pasokan bahan makanan untuk karyawan perusahaan. Sehingga multiplier effect yang ditimbulkan sangat besar, kenyataan tersebut menjadikan kesejahteraan masyarakatpun semakin meningkat.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, JUMAT, 14 MARET 2014


Artikel Terkait