Warga Merapi yang Kehilangan Mata Pencaharian, Bisa Berkebun di Kaltim
23 November 2010 Admin Website Artikel 302

Jakarta - Anggota DPD asal Kalimantan Timur, Luther Kombong, mengusulkan agar penduduk terdampak letusan Gunung Merapi direlokasi ke Kalimantan Timur. Mereka menjadi bagian pola inti-plasma perkebunan kelapa sawit di sana.

Demikian bunyi surat elektronik yang dikirimkan Setjen DPD, Selasa (23/11/2010). Disebutkan usulan itu disampaikan Kombong ketika membacakan Laporan Kegiatan Anggota DPD asal Kalimantan Timur di Sidang Paripurna DPD, Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

“Relokasi ini terutama pengungsi yang tidak lagi memiliki sumber penghidupan,” ujar Luther.

Seperti halnya para transmigran, setiap kepala keluarga akan menerima 2 hektar lahan dan uang tunjangan yang nilainya di atas UMR selama tahun pertama dari pemerintah. Atau bekerja sebagai karyawan di perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Menurut perhitungannya, jika 100 dari 200 perusahaan perkebunan sawit menerima 50 KK maka total 5000 KK bisa direlokasi. Tidak cuma untuk ditempatkan di Kalimantan Timur, tetapi juga Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan.

"Gagasan ini sempat diutarakan kepada Presiden SBY saat bersama ikuti KTT G-20 di Seoul, Korea Selatan. Beliau bilang, ‘Ide bagus, tolong DPD tindaklanjuti’” sambung Luther.

Untuk melaksanakan gagasan tersebut, DPD harus kerjasama dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Pemprop DI Yogyakarta dan Pemprop Jawa Tengah. Relokasi tersebut ini dapat mendukung program percepatan revitalisasi perkebunan melalui pengembangan, perluasan, peremajaan, dan rehabilitasi tanaman perkebunan.

Sedangkan untuk area terdampak letusan di sekitar puncak Gunung Merapi, menurut Luther, sebaiknya tidak lagi dijadikan pemukiman. Agar lebih tepat bila dikembalikan sebagai kawasan hutan yang sekaligus mempertahankan keberadaan sumber-sumber air yang ada.

Wakil Ketua DPD Laode Ida yang memimpin Sidang Paripurna DPD bersama Wakil Ketua DPD sekaligus Ketua Tim Task Force DPD Gusti Kanjeng Ratu Hemas, menunjuk Luther mengkoordinasikan realisasinya. Berdasarkan laporan DPD DIY, dampak langsung terhadap kegiatan ekonomi di lereng Gunung Merapi cukup besar.

"Dampak langsungnya terutama di kecamatan yang radiusnya hingga 20 kilometer dari puncak Gunung Merapi. Seperti di kecamatan Turi, Pakem, Cangkringan, dan Ngemplak yang pertanian warganya paling terpukul," papar Hemas.

Sedangkan untuk dampak tidak langsungnya adalah terhadap kegiatan jasa, perdagangan, dan industri yang kait-mengait. Misalnya 900 dari 2.500 UMKM di Sleman untuk sementara tidak berproduksi karena mereka mengolah hasil peternakan, holtikultura, dan kerajinan. Selain itu, 3.913 pedagang di pasar tradisional diperkirakan rugi Rp 3,2 miliar.

DIKUTIP DARI DETIK ONLINE, SELASA, 23 NOPEMBER 2010


Artikel Terkait