(0541)736852    (0541)748382    disbun@kaltimprov.go.id

UPTD PBP Disbun Kaltim Dorong Pelestarian Sumber Daya Genetik Kopi dan Kakao Lokal

06 November 2025 Afif Berita Daerah 329
UPTD PBP Disbun Kaltim Dorong Pelestarian Sumber Daya Genetik Kopi dan Kakao Lokal

SAMARINDA. Dalam upaya memperkuat kapasitas sumber daya manusia di bidang perbenihan dan pelestarian sumber daya genetik tanaman perkebunan, UPTD Pengawasan Benih Perkebunan (PBP) Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur (Disbun Kaltim) menggelar Pelatihan Eksplorasi, Identifikasi, Penilaian, dan Inventarisasi Plasma Nutfah di Ruang Rapat Camellia, Kantor UPTD PBP Disbun Kaltim, Kamis (6/11/2025).

Kegiatan ini menjadi langkah nyata pemerintah daerah dalam memastikan potensi sumber daya genetik lokal, khususnya pada komoditas unggulan seperti Kopi dan Kakao, dapat dikelola dan dikembangkan secara berkelanjutan untuk mendukung ketahanan pangan dan ekonomi daerah.

Pelatihan dibuka secara resmi oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perkebunan yang diwakili Kepala UPTD PBP, Eka Rini Elvianti. Dalam arahannya, Rini menyampaikan bahwa plasma nutfah merupakan aset strategis yang menjadi dasar pengembangan varietas unggul di masa depan.

“Keanekaragaman genetik tanaman adalah modal penting dalam perbaikan varietas atau pengembangan varietas unggul baru dengan sifat yang lebih baik seperti peningkatan produktivitas, serta ketahanan terhadap perubahan iklim dan serangan hama penyakit,” ujarnya.

Rini menambahkan bahwa Kalimantan Timur memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas Kopi dan Kakao, dua tanaman perkebunan bernilai ekonomi tinggi yang berperan penting dalam peningkatan pendapatan petani.

Namun, keberhasilan pengembangannya sangat bergantung pada upaya pelestarian dan pendokumentasian plasma nutfah lokal secara ilmiah dan sistematis.

Rini berharap para peserta pelatihan dapat meningkatkan kemampuan teknis dalam melakukan eksplorasi dan identifikasi plasma nutfah di lapangan, memahami metode penilaian dan dokumentasi karakter tanaman Kopi dan Kakao sesuai standar ilmiah, serta berkontribusi dalam membangun basis data plasma nutfah lokal.

“Melalui pelatihan ini, kita tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menanamkan kesadaran dan memberikan pemahaman akan pentingnya menjaga warisan dan melestarikan sumber daya genetik lokal yang menjadi fondasi perbenihan dan pengembangan perkebunan berkelanjutan yang seiring dengan inovasi teknologi perbenihan,” jelasnya.

Rini menekankan bahwa UPTD PBP sebagai unit pelaksana teknis memiliki peran strategis bukan hanya sebagai pengawas mutu benih, tetapi juga sebagai garda depan pelestarian sumber daya genetik perkebunan di Kalimantan Timur.

Sebagai wujud keseriusan, pelatihan ini menghadirkan dua narasumber utama dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yakni Prof. Rubiyo dan Meynarti Sari Dwi Ibrahim yang merupakan Peneliti Ahli Utama dengan pengalaman panjang dalam bidang pemuliaan tanaman.

Dalam paparannya, Rubiyo menjelaskan tentang eksplorasi plasma nutfah dan pemuliaan tanaman Kakao. Ia memaparkan bahwa Indonesia saat ini menempati posisi ke-7 produsen Kakao terbesar di dunia.

“Terdapat dua macam varietas Kakao, yaitu varietas lokal dan varietas hasil pemuliaan. Varietas lokal adalah yang telah dibudidayakan secara turun-temurun oleh masyarakat dan menjadi bagian dari kekayaan genetik bangsa, sementara varietas hasil pemuliaan dihasilkan melalui kegiatan riset dan seleksi terarah,” terangnya.

Rubiyo menambahkan bahwa pendaftaran varietas hasil pemuliaan memiliki banyak manfaat, antara lain tersedianya database varietas tanaman yang memperjelas identitas, deskripsi, serta pemilik varietas.

Setelah pendaftaran, dilakukan tindak lanjut berupa pelestarian varietas melalui perbanyakan tanaman, pembuatan duplikat, penyimpanan benih, hingga peremajaan.

“Varietas yang terdaftar juga menjadi sumber materi genetik untuk perakitan varietas baru, serta dapat dimanfaatkan sebagai sumber ekonomi masyarakat. Plasma nutfah harus dijaga kelestariannya agar bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan,” ujar Rubiyo.

Sementara itu, Meynarti membawakan materi mengenai prinsip eksplorasi plasma nutfah dan pemuliaan tanaman Kopi. Ia menjelaskan bahwa pengelolaan plasma nutfah mencakup serangkaian kegiatan penting seperti eksplorasi, inventarisasi, identifikasi, pasporisasi, evaluasi, dan konservasi.

“Setiap tahap memiliki tujuan yang saling terhubung, mulai dari pencarian dan pengumpulan plasma nutfah di lapangan, pendataan dan dokumentasi ilmiah, hingga pemanfaatan untuk kegiatan seleksi dan perakitan varietas baru yang lebih adaptif dan produktif,” paparnya.

Meynarti menegaskan pentingnya kolaborasi antar lembaga, baik pemerintah, akademisi, maupun petani dalam melaksanakan konservasi dan rejuvinasi plasma nutfah agar keberlanjutannya dapat terjamin.

Rini menutup kegiatan dengan menyampaikan harapannya agar pelatihan ini tidak berhenti pada tataran teoritis, tetapi juga diimplementasikan di lapangan melalui kegiatan eksplorasi dan pendataan plasma nutfah.

“Pelestarian plasma nutfah bukan pekerjaan sehari dua hari, melainkan tanggung jawab jangka panjang yang memerlukan sinergi dan komitmen bersama. Dengan pengetahuan dan semangat kolaborasi yang kuat, saya yakin Kalimantan Timur dapat menjadi percontohan nasional dalam konservasi dan pengembangan plasma nutfah tanaman perkebunan, khususnya kopi dan kakao,” pungkasnya.

Kegiatan ini mencerminkan komitmen Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui Disbun Kaltim dalam menjaga keberlanjutan sektor perkebunan.

Dengan memperkuat kapasitas SDM dan memperkaya data sumber genetik lokal, diharapkan pengembangan varietas unggul dapat berjalan lebih terarah, produktif, dan berdaya saing tinggi, sejalan dengan misi pembangunan perkebunan berkelanjutan di Benua Etam. (fif/disbun)

SUMBER : SEKRETARIAT

Artikel Terkait