Upaya Warga Ingin Garap Lahan Tidur
15 Mei 2008 Admin Website Artikel 369
"Kedatangan kami cuma disambut security (Satpam). Terus terang saja, kami kecewa karena tidak bisa masuk. Jalannya juga diportal," kata Camat Loa Kulu, Edi Supriani, kepada Kaltim Post sepulang dari PT Haspram, kemarin.

Kedatangan Edi Supriani ke PT Haspram bersama 12 kades dan BPD se-Loa Kulu juga didampingi Kapolsek Loa Kulu AKP Suraji dan Danramil Kapten Surono.

Namun mereka pulang dengan tangan hampa karena gagal bertemu manajemen untuk membicarakan sebagian lahan di atas Hak Guna Usaha (HGU) milik PT Haspram. Karena masyarakat yang tergabung di Forum Komunikasi Masyarakat (FKM) Loa Kulu menginginkan sebagian lahan untuk kemakmuran rakyat.

"Perjuangan ini murni untuk kepentingan masyarakat. Saya selalu mendampingi Forum (FKM Loa Kulu, Red.) untuk mendapatkan sebagian lahan milik Haspram. Saya ingin ada itikad baik dari memilik PT Haspram melalui pendekatan kekeluargaan. Harapan kita mudah-mudahan pihak PT Haspram mau memberikan sebagian lahannya untuk masyarakat," harapnya.

Lahan yang diminta masyarakat Loa Kulu seluas 1.014 hektere yang berada di Kampung Lembonang, Jembayan Dalam. Lahan tersebut merupakan lahan tidur eks perkebunan cokelat dan sebagian ditanami kelapa sawit milik PT Haspram. Masyarakat Loa Kulu menginginkan PT Haspram melepaskan lahan tersebut kepada masyarakat, karena masyarakat mendapatkan hibah dari perusahaan tambang batu bara PT Multi Harapan Utama (MHU).

MHU memberikan lahan tambang itu kepada masyarakat. Apabila lahan itu ditambang hasilnya akan dapat dinikmati sepenuhnya oleh masyarakat.

"Sesuai hitungan tiap desa akan mendapat bagian Rp 100 juta per bulan," tegas Edi semangat.

Pernyataan senada diungkapkan Ketua FKM Loa Kulu Rudiansyah di sela-sela pertemuan di salah satu rumah makan di Tenggarong seusai gagal menemui manajeman PT Haspram kemarin. "Sekarang masyarakat sudah mendapatkan investor dan mengurus perizinan. Cuma perizinan terkendala izin lokasi karena berada di lahan perkebunan milik PT Haspram," ujarnya.

Upaya yang dilakukan FKM Loa Kulu untuk mendapatkan lahan dari PT Haspram terhitung sudah cukup lama. Awalnya mereka mati-matian meminta hibah dari PT MHU dan pada 2005 berhasil. Namun sekarang terkendala dengan PT Haspram. Terhitung sudah tujuh kali FKM menyurati manajemen Haspram dan empat kali melakukan dialog. Bahkan dialog antara PT Haspram dan FKM Loa Kulu pernah difasilitasi DPRD Kukar. Hasilnya nihil karena yang mewakili PT Haspram bukan orang sebagai pengambil kebijakan.

"Kami juga sudah melakukan negosiasi (penawaran bagi hasil, Red.) kepada pemilik PT Haspram. Tapi tidak ada tanggapan. Karena itulah kami bersama muspika dan aparat desa datang ke kantor PT Haspram hari ini (kemarin, Red.) dengan harapan pihak manajemen mengabulkan permohonan kami," paparnya.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, KAMIS, 15 MEI 2008

Artikel Terkait