RI Butuh 15 Tahun Lagi Jadi Produsen Kopi No.1 Dunia
17 November 2011 Admin Website Artikel 284
JAKARTA. Pelaku industri kopi dalam negeri berambisi menjadi produsen kopi No.1 di dunia. Untuk mencapai itu, Indonesia butuh waktu bertahun-tahun.

Wakil Ketua Umum Bidang Spesialti dan Industri Kopi Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Pranoto Soenarto mengatakan dalam 5 tahun ke depan Indonesia akan menjadi negara penghasil kopi No. 2 di dunia dan dalam 10-15 tahun kemudian bisa bertengger jadi produsen kopi No. 1 di dunia dari saat ini peringkat No.3 dunia.

"Total produksi 2010-2011 sebesar 600.000 ton dan target produksi 2011-2012 mencapai 650.000 ton. Untuk 5 tahun kedepan kita menargetkan total produksi menjadi 1,3-1,4 juta ton dan menjadi No. 2 di dunia. Kemudian pada 10-15 tahun kedepan kita menargetkan menjadi No. 1 dengan produktivitas lahan," katanya saat ditemui pada acara Kontes Kopi Spesialti Indonesia Ke-4 yang bertempat di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu (16/11/2011)

Ia menambahkan untuk menjadi No. 2 ada beberapa langkah yang ditempuh salah satunya dengan menggandakan produksi pohon yang sudah ada dengan cara mempelajari genetiknya. Penelitian ini dilakukan untuk menyeleksi bibit dan menyesuaikan bibit dengan tanah tertentu agar bisa berkembang dengan pesat sehingga berproduksi bisa dua kali lipat.

"Kita sekarang lagi mempelajari genetiknya. Kita meneliti bibit-bibit kopi untuk ditanam di tanah tertentu atau di tanah yang cocok agar berproduksi double. Bibit A ketemu dengan tanah A baru bisa berkembang dengan pesat. Saya akan mulai di lahan di Jawa. Kalau sudah berhasil itu akan dilakukan di seluruh Indonesia," jelasnya

Pranoto juga mengatakan Indonesia akan terus memperluas hasil produksi kopi untuk di pasarkan ke pasar global. Salah satunya adalah China yang akan menjadi target pasar.

"Mata kita harus melihat China adalah potensial market kita, kalau China akan betul-betul seperti Jepang akan mengkonsumsi kopi maka kita butuh 1 negara seperti Vietnam produksinya, jadi kita perlu 1,2 juta ton. Makanya nanti yang kedepannya kita tidak akan pusing melihat pasar Eropa atau AS. Kalau dengan adanya pasar China saja udah terjual habis. Makanya kita tidak boleh berhenti karena konsumsi dunia makin meningkat, karena China nanti kita akan jadi double konsumsi dunia dalam bentuk biji maupun olahan," katanya.

Untuk tahun 2011-2012, ia optimistis bahwa ekspor kopi Indonesia akan meningkat karena dunia sekarang sedang kekurangan kopi. Ia menggambarkan aturan ekspor kopi sebelumnya hanya grade 4. Namun sekarang ini banyak grade 5, 6, 7 yang diekspor karena di dunia ini lagi kekurangan kopi.

"Ekspor kita itu 2010-2011 sekitar 600.000 ton. Tahun lalu 720.000 ton. Yang 100.000 lebih itu sampahnya kopi. Yang biji jelek, bubuk. Nilai sangat tinggi karena harga lagi bagus. Sampah kopi Arabica bisa laku US$ 3 dolar. Zaman dulu grade 1 kita baru US$ 3 dan luas lahan kopi di Indonesia itu 1,3 juta hektar. Hasilnya 700-800 kilo per hektar," katanya.

DIKUTIP DARI DETIK ONLINE, RABU, 16 NOPEMBER 2011

Artikel Terkait