Program Perkebunan Kaltim Berkelanjutan Mendukung Sukses MP3EI
18 Desember 2012 Admin Website Artikel 336

SAMARINDA. Program pembangunan perkebunan Kaltim sangat selaras dengan gerak pembangunan nasional khususnya program induk berupa Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

Sesuai dengan visi pembangunan Kaltim Bangkit untuk mewujudkan Kaltim sebagai pusat agroindustri dan energi terkemuka menuju masyarakat adil dan sejahtera, subsektor perkebunan sangat berkontribusi dalam mewujudkan visi pembangunan di daerah ini.

"Kaltim memiliki lahan potensial untuk pengembangan komoditi perkebunan sekitar 4,6 juta hektare dan realisasi pemanfaatan lahan pada 2011 mencapai 995.618 hektare. Dari realisasi itu, 827.347 hektare diantaranya merupakan areal perkebunan sawit," kata Kepala Dinas Perkebunan Kaltim Etnawati.

Pemanfaatan potensi lahan tersebut dilakukan dengan pola penanaman perusahaan besar swasta dan PT Perkebunan Nusantara (inti) serta masyarakat sebagai pekebun plasma. Pengembangan perkebunan pola PBS telah diterbitkan 330 ijin lokasi dengan luasan 3,8 juta hektare.

Sedangkan yang sudah memiliki ijin usaha perkebunan (IUP) sekitar 207 PBS atau mencapai 2,69 juta hektare dan dari jumlah tersebut, 115 PBS telah memiliki hak guna usaha (HGU) dengan luasan areal mencaapi 970.506 hektare.

Pada 2008-2011 luas areal tanaman perkebunan menglami pertumbuhan rata-rata 7,18 persen atau 591.223 hektare menjadi 827.347 hektare pada 2011. Produksi mengalami pertumbuhan rata-rata 15,55 persen pertahuan atau 1.786.776 ton pada 2008 menjadi 4.603.373 ton pada 2011.

Target sejuta hektare sawit pada 2013 sudah terealisasi hingga 2011 mencapai 827.347 hektar dari PBS/PTPN XIII seluas 576.315 hektar (70,16 persen) dan perkebunan rakyat seluas 245.071 hektar (29,84 persen) terdiri dari kebun kemitraan (plasma) 102.887 hektar, program revitalisasi 20.003 hektar dan kebun rakyat (APBD prov/kab/kota) 122.181 hektar.

Hingga akhir 2012 target sejuta hektar sawit masih kekurangan sekitar 120.613 hektar, namun permintaan benih/kecambah untuk tanam tersebut pada 2012/2013 mencapai 35.571.050 kecambah atau setara 237.140 hektar, sehingga target penanaman sejuta hektare sawit, optimis akan tercapai tahun ini.

Pertambahan luas areal sawit membawa konsekuensi pada pembangunan pabrik kelapa sawit (PKS) dengan asumsi 200 hektar memerlukan mesin pengolah satu ton/TBS/jam. Dengan perhitungan itu, pada 2015 diperkirakan diperlukan 100 hingga 150 unit PKS dengan kapasitas 30-60 ton/TBS/jam. Kaltim menargetkan hingga 2013 bisa dibangun 60 unit PKS, namun realisasinya sekitar 48 unit PKS.

Dari 48 PKS tersebut memiliki kapasitas olah mencapai 2.330 ton TBS/jam. Masing-masing di Kabupaten Paser 12 PKS dengan kapasitas 525 ton TBS/jam. Penajam Paser Utara dua PKS 120 TBS/jam. Kutai Barat satu PKS 45 ton TBS/jam dan Kutai Timur 16 PKS 815 ton TBS/jam.

Kemudian di Kabupaten Berau tiga PKS 165 ton TBS/jam, Nunukan lima PKS 150 ton TBS/jam, Kutai Kartanegara delapan PKS 450 ton TBS/jam dan Bulungan satu PKS 60 ton TBS/jam.

Sementara itu, terdapat 12 PKS yang masih dalam tahap pembangunan dengan kapasitas 540 ton TBS/jam masing-masing di Kabupaten Berau dua PKS 75 ton TBS/jam. Bulungan satu PKS 30 ton TBS/jam, Kutai Timur dua PKS 90 ton TBS/jam, Kutai Kartanegara tujuh PKS kapasitas 345 ton TBS/jam.

 

Selain komoditas sawit, Kaltim juga berkonsentrasi untuk mengembangkan Komoditi perkebunan lainnya, yakni perkebunan Karet yang hingga kini seluasanya mencapai 84.713 hektar dengan produktivitas rata-rata 1.398 kg/ha. 
Selanjutnya Kebun Kakao seluas 26.356 hektar dengan produktivitas 1.203 kg/ha. Tanaman Lada 10.650 hektar produktivitas 631 kg/ha dan kelapa dalam seluas 29.804 hektar dengan produktivitas 1.050 kg/ha.

 

"Subsektor perkebunan memiliki fungsi sosial atau memberikan peluang terbukanya kesepatan kerja bagi masyarakat Kaltim, sehingga dapat mengatasi pengangguran. Terbukti penyerapan tenaga kerja dari subsektor ini terjadi peningkatan, yakni 324.137 tenaga kerja pada 2008 menjadi 444.467 tnagaka kerja pada 2011 atau meningkat 17,11 persen," demikian Etnawati.(Masdiyansyah/hmsprov).

SUMBER : HUMAS PROV. KALTIM 


Artikel Terkait