Produksi Terus Merosot, Diprediksi Punah 10 tahun Lagi
16 Mei 2012 Admin Website Artikel 307
SAMBOJA.  Deretan terpal biru yang menjadi alas ribuan potong daging buah kelapa (cocos nucifera) terhampar di depan salah satu rumah warga di RT 08, Handil Baru. Ratusan buah kelapa yang masih utuh menumpuk di bibir jalan. Kelapa kualitas bagus akan dijual. Sedangkan yang tidak memenuhi ketentuan pasar, oleh pemilik dijadikan kopra.

"Kopra yang dibuat di sini merupakan produk hasil merugi. Artinya, kelapa yang tidak bisa dijual di pasar dibuat kopra," ungkap Wahid, ketua RT 08, Kelurahan Handil Baru, kepada media ini akhir pekan lalu.

Kata dia, harga jual satu buah kelapa ke pedagang Rp 1.200. Sedangkan untuk membuat satu kilogram kopra dibutuhkan lima buah kelapa. Harga per kilogramnya pun kini turun. Sebelumnya Rp 4 ribu menjadi Rp 3.500. "Kalau dihitung-hitung, rugi jadinya. Belum biaya untuk membuat kopra. Mulai dari tenaga kerja hingga waktu sampai kopra siap dijual," tambah Wahid.

Dalam perjalanannya, pergeseran terhadap permintaan pasar ikut memengaruhi. Sebelumnya pembeli buah kelapa dilakukan secara kolektif. "Misalnya, kalau yang kualitasnya bagus, satu buah kelapa bisa dihargai sesuai dengan harga di pasaran. Sedangkan yang kualitasnya lebih rendah, harga sama, tetapi bisa dapat dua buah atau lebih," tuturnya.

Namun saat ini, para pembeli buah hanya mau mengambil buah kelapa yang kualitasnya nomor satu. Entah mengapa pergeseran ini terjadi, para pemilik kebun sendiri belum mengetahuinya. Tetapi, menurut Wahid, serbuan buah kelapa dari daerah lain yang memengaruhi pergeseran permintaan tersebut.

Penjualan kopra, Wahid mengatakan ada sebuah koperasi tentara yang membantu pemasarannya. Tujuannya ke Surabaya, Jawa Timur (Jatim). Secara rutin, satu mobil bak akan datang langsung ke pembuat kopra. Biasanya, untuk satu rumah tangga menghasilkan dua kuintal kopra. Di wilayahnya sendiri, ada dua rumah tangga yang memproduksi kopra.

"Produksinya tetap dan tak ada perkembangan. Apalagi kini produksi buah kelapa semakin merosot tajam. Banyak penyebabnya. Tetapi yang paling utama akibat genangan air. Baik akibat banjir maupun arus pasang laut," ucap pria yang keluarganya adalah pembuat kopra.

Wahid menceritakan, sejak lima tahun lalu, arus pasang laut semakin meningkat. Ratusan hektare kebun kelapa tergenang. Bahkan ketinggiannya bisa mencapai 30 centimeter. Hal tersebut diperparah tidak berfungsinya pintu air sungai di Handil Baru. Sehingga air yang merendam kebun lama surutnya.

"Ini kebetulan lagi masa konda (masa di mana air laut tidak mengalami arus pasang atau arus naik, biasanya berlangsung selama lima hari). Kalau lagi pasang, air laut terjebak di darat dan bisa merendam kebun hingga tiga hari. Inilah yang merusak pohon kelapa. Apalagi tanah disini bersifat asam," ujarnya.

Dampaknya, kata dia, kualitas buah menjadi menurun. Selain itu produksi semakin sedikit. Jika normalnya satu pohon kelapa bisa menghasilkan 100 buah per tiga bulan. Kini hanya mampu menghasilkan 40 buah kelapa dengan tempo yang sama. "Pada akhirnya yang punya kebun kelapa juga harus beli kelapa ke kebun orang lain. Ini untuk mencukupi kebutuhan pasar," lanjutnya.

Dirinya memperkirakan, dalam 10 tahun ke depan, pohon kelapa di Handil Baru sudah tidak berproduksi lagi. Hal ini, perkiraannya, karena masyarakat sudah jarang melakukan penanaman baru (replant) pohon kelapa. Sebab, hasil yang diperoleh masyarakat dari kelapa tidak lagi memenuhi kebutuhan ekonomi.

Kata dia, sebagian pemilik kebun juga tidak merawat kebun tanamannya. Tenaga kerja pengambil buah kelapa juga kini sulit dicari. Di Handil Baru sebut Wahid, tinggal dua orang warga  yang mau bekerja mengambil dan dibayar untuk merawat kebun kelapa.

Kini, warga sekitar berharap ada perhatian dari pemerintah. Terutama dalam mengendalikan keluar masuknya arus pasang air laut. "Harus ada penggalian dan pembuatan alur baru sungai. Khususnya di Handil Baru. Karena dari empat sungai, yakni Sungai Raden, Sungai Mantri, Sungai Tanggih, Sungai Handil Baru, yang di Handil Baru sudah tidak berfungsi lagi," katanya.

Ada keinginan warga  menambah penghasilan dari buah kelapa, jika ada yang mau membeli limbah  batok dan sabut. Selama ini, dua limbah ini hanya dijadikan bahan bakar untuk pengasapan kopra. Kalau pun ada lebihnya maka dibuang ke dalam sungai.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, RABU, 16 MEI 2012 


Artikel Terkait