Pohon Aren Dilirik untuk Pemanfaatan Bioethanol
31 Januari 2008 Admin Website Artikel 342
Bioethanol yang juga berfungsi sebagai pengganti bahan bakar premium, alkohol dan juga berguna untuk industri makanan, minuman atau kosmetik ini, bisa dikelola sendiri oleh petani dan tidak membutuhkan bahan campuran.

Sedangkan biodiesel memerlukan crude palm oil (CPO), yang pastinya membutuhkan biaya tinggi dan bahan kimia seperti methanol sampai dengan 20 persen untuk bahan campurannya.

Ketua Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Kabupaten Nunukan Dian Kusumanto menuturkan, selain gula, aren (Arenga pinnata Merril) atau enau dapat menghasilkan bioethanol. Berdasarkan penelitian yang ada, potensi aren berkisar antara 20 -56 ribu liter per hektare per tahun. Sedangkan biodiesel hanya 5 ribu liter per hektare per tahun.

Bioethanol dengan bahan baku aren, diperoleh dari nira atau tandan bunganya, dengan potensi 10 liter per hari per pohon. Kemudian dari 3 liter nira tersebut, dapat menghasilkan satu kilogram gula aren yang saat ini dihargai sebesar Rp 8 ribu.

"Dari hasil penelitian ini, Dekopinda melihat aren yang tumbuh di sekitar sungai tersebut, merupakan bahan baku yang akhirnya dapat mengembangkan perekonomian masyarakat," jelasnya.

Kemudian dapat memberdayakan koperasi-koperasi se-Kabupaten Nunukan, serta bisa berswasembada energi, karena alat pengolahannya tidak terlalu mahal.

Meskipun saat ini Dekopinda masih mewacanakan bioethanol dari aren tersebut, diharapkan, petani aren dapat membudidayakan hasil kebun aren.

Di Kota Nunukan, memang sudah terlihat banyak petani yang mengembangkan pohon aren. Khususnya di Kampung Baru, yang saat ini masih diolah menjadi gula dan arak (tuak) oleh masyarakat.

"Ke depannya, selain membina, mungkin kami juga akan memfasilitasi para petani aren, untuk pengembangan bioethanol di Kabupaten Nunukan," katanya.

DIKUTIP DARI KALTIM POST, KAMIS, 31 JANUARI 2008

Artikel Terkait